Browse By

ARGUMEN ISLAM UNTUK PLURALISME ?

Pada tahun 2005, Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa bahwa paham Sekularisme, Liberalisme, dan Pluralisme adalah haram. Keharamannya lantaran merusak akidah Islam. Pendangkalan akidah yang terjadi lantaran merebaknya sebuah paham yang menyatakan bahwa semua agama pada dasarnya adalah sama benarnya. Pemahaman ini berangkat dari relativitas kebenaran, yang membuat keraguan dalam keyakinan beragama. Pertanyaannya adalah, jika semua agama adalah jalan yang sah menuju tuhan dan sama benarnya, untuk apa beragama?. Sehingga tepatlah Buya Hamka mengatakan, “Siapa yang menganggap semua agama sama, pada hakikatnya ia tidak beragama!.”

Sebuah buku, yang ditulis oleh salah seorang pegiat pluralisme, yang mengklaim sebagai “Cendikiawan progressif,” Budhi Munawar-Rahman. Menulis argumentasi pembelaan terhadap pluralisme. Hal ini ditegaskan oleh Budhi, “Sejak awal, ditekankan bahwa buku ini membela pluralisme.” (Budhi Munawar-Rahman, Argumen Islam untuk Pluralisme, Jakarta: Kompas, 2010, hlm.23)

Budhi berkesimpulan bahwa,

Islam adalah agama yang kitab sucinya dengan tegas mengakui hak agama-agama lain sepenuhnya. Pengakuan akan hak agama-agama lain itu dengan sendirinya merupakan dasar paham pluralisme sosial-budaya dan agama, sebagai ketetapan tuhan yang tidak berubah-ubah. (Q.5:44-50)…, bahkan, al-Qur’an juga mengisyarakan bahwa para penganut berbagai agama, asalkan percaya kepada tuhan dan hari kemudian serta berbuat baik, semuanya akan selamat (Q.2:62; dan 5:16).

Inilah yang disimpulkan Budhi sebagai fondasi pluralisme dalam Islam (hlm.27). Budhi menekankan bahwa makna ‘Islam’ bukan sebagai agama terlembaga (organized religion). Islam diartikan sebagai sikap pasrah kepada tuhan. Apapun agamanya, Semua agama benar, adalah Islam. (hlm.23)

Budhi sangat tidak percaya dengan kebenaran Islam. Bahkan menurutnya konsep klaim kebenaran dalam Islam harus di tolak. (hlm.25). Buku yang ditulis oleh Budhi ini menurut penulis sangat aneh dan rancu.

Budhi sangat menentang fatwa MUI tentang keharaman “trilogy pembaharuan” (meminjam istilah Dawam Raharjo) atau yang biasa disebut paham “SEPILIS” = Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme. Sejak awal tulisanya Budhi sudah protes. Pluralisme tidak hendak menyamakan semua agama, katanya. Budhi mengumpulkan berbagai statement pendukung pluralisme yang memprotes fatwa MUI. Dan menganggap orang-orang di MUI berpikiran dangkal.

Namun, ketika Budhi mengambil kesimpulan atas teori-teori yang dibangunnya. Budhi justru mendukung kesetaraan agama-agama, dan kebenaran agama-agama atau ekuivalen semua agama sama. Aneh.

Dalam buku ini, Budhi menafsirkan ayat al-Qur’an secara serampangan dan “meminjam istilah Anis Malik Thoha” penafsiran yang Out of Contects, keluar jalur!. Budhi tidak mengambil tafsiran dari mufassir yang otoritatif. Budhi hanya berspekulasi sebatas kemampuan akalnya. Sehingga ayat-ayat al-Qur’an yang digunakannya terasa aneh dan janggal.

Budhi menuturkan pluralisme sebagai “kearifan Global” (hlm.29), harus mengedepankan dialog yang terbuka terhadap semua agama. Dengan dialog, menurut Budhi akan memperkaya dan dapat merayakan kepelbagaian yang semakin berkembang dan berarti. Dengan dasar tanggung jawab sosial kesejahteraan manusia dan lingkungan. (hlm.15)

Dari sini sangat jelas Budhi tidak melihat kemajemukan agama sebagai seorang yang beragama. Namun, Budhi sangat kentara menggunakan worldview humanis. Humanis sekular tepatnya.

Budhi menuduh ekslusifitas agama sebagai biang keladi dari konflik antar agama. sifat ekslusif ini membuat penganut agama enggan berdialog secara terbuka dan mengakui adanya kebenaran pada agama lain. (hlm.24)

Budhi kelihatanya tidak ahli dalam sejarah peradaban Islam. Budhi nampaknya tidak tau tentang penyebaran Islam, atau dalam istilah Syed Naquib al-Attas sebagai Islamisasi. Islam disebarkan melalui dialog teologis. Nabi Muhammad saw., menyeru kepada umat manusia kepada kalimat tawhid dengan dialog. Al-Qur’an banyak menceritakan dialog antara Muslimin dengan Kafir, Muslimin dengan Musyrik, dan Muslimin dengan Munafik.

Dan salah satu bukti konkret dialog teologis Islam adalah adanya proses Islamisasi Nusantara. Dimana tidak terjadi satu perang pun dalam proses Islamisasi. Pun terjadinya perang di Nusantara lantaran reaksi atas Imperialisme yang ber-simbiosis mutualisme  dengan Missionarisme.

400 tahun setelah penduduk Nusantara beriman dan ber-Islam. Pada abad ke-13 datanglah para penjajah yang juga memaksakan keyakinan beragama. Aksi pemurtadan yang dilakukan penjajah dan peng-injil melahirkan reaksi untuk mempertahankan aqidah Islam. Reaksi ini kemudian yang ditanggapi dengan aksi militer. Sehingga terjadilah perang. (lihat Muhammad Isa Anshory, Mengkristenkan Jawa, Karanganyar, 2013)

Dialog teologis Islamisasi inilah yang sesungguhnya menjadi modal utama dalam proses Islamisasi. Dialog teologis inilah yang disebut dengan Da’wah!. Menyeru kepada Allah swt., mengakui kenabian Rasulullah saw., dan meyakini otentitas al-Qur’an, serta mengamalkannya.

Da’wah!. Itulah dialog teologis yang menyeru kepada kebenaran. Bukan kemudian seperti dialog lintas agama yang dijadikan sebagai even penyatuan agama-agama yang kemudian di klaim melahirkan global ethic. Namun da’wah adalah dialog yang mencerahkan, membuka wawasan kepada kebenaran Islam.

(Serang, 10 Desember 2016)

Jemmy Ibnu Suardi
Divisi  Litbang Yilead

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *