Browse By

Belajar Leadership dari Bapak Para Nabiyullah Ibrahim a.s.

Bchtiar-Nasir

Alhamdulillah, tepat pada hari Kamis, 30 Oktober 2014, sebelum kelas pertama Islamic Leadership Academy batch 2 dimulai, guru dan pembina organisasi Young Islamic Leaders, Ustadz Bachtiar Nasir, membahas tadabbur Surah Al-Baqarah ayat 124.

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menyempurnakannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.” Allah berfirman, “JanjiKu tidak mengenai orang-orang yang zhalim.”

Ternyata esensi dari ayat tersebut adalah tentang amanah kepemimpinan yang diberikan Allah kepada kekasihNya dan ayahanda dari para Nabiyullah, yaitu Ibrahim a.s. Tadabbur ayat ini harus dipahami oleh para pemuda yang mempunyai aspirasi kepemimpinan seperti teman-teman Young Islamic Leaders di sini J.

Apa saja yang dibahas pada kelas rutin Tadabbur Al-Quran tersebut?

Leadership Adalah Amanah Allah Untuk Mereka Yang Taat

Ketaatan Ibrahim as kepada kekasihnya, Allah SWT, menjadi modal pertama yang membuat ia berhak atas kepemimpinan umat manusia. Allah SWT telah mengujinya dengan berbagai “kalimat”. Kalimat disini, menurut tafsir para mufassir seperti Tafsir Al-Jalalain, Abdullah ibn Abbas, dan Mujahid, adalah ”perintah dan larangan Allah”. Dan Nabiyullah Ibrahim as telah menyempurnakannya, yaitu “melaksanakannya dengan sempurna.” Mulai dari perintah untuk bersuci atau “thaharah”, khitan, manasik haji, meninggalkan kaumnya di jalan Allah, mendebat penguasa (Raja Namrud), sabar saat dilempar ke dalam api, menjamu tamu dengan sabar, dan penyembelihan anaknya. Ia pun dengan pasrah berserah diri kepada Allah ketika diperintahkan untuk berserah diri.

“Jika ingin menjadi kekasih Allah seperti Ibrahim a.s. maka turutilah dan taatilah perintah Allah, dan jauhilah larangan Allah. Ibrahim a.s. selalu dengan hati senang bertanya, apalagi ya Allah? Apalagi perintahMu? Aku akan laksanakan…” ujar Ustadz Bachtiar Nasir menjelaskan dengan gamblang.

Jika kita ingin mengikuti jejak Ibrahim a.s., maka pelajarilah ilmu agama dengan sungguh-sungguh dan serius, ketahui apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Ketika Allah sudah berkenan menjadi kekasih kita, maka Allah akan memberikan semua yang baik-baik untuk kita, bahkan sebelum diminta. Apalagi jika kita meminta seperti permintaan Ibrahim, maka Allah pun pasti berkenan mengabulkannya, jika itu baik untuk kita.

Janji Leadership Allah Bukan Untuk Mereka Yang Zhalim

Ketika Ibrahim a.s. memohon keturunannya juga menjadi imam bagi manusia seperti dirinya, ternyata Allah mengabulkan, namun Ia juga berkata, janjiNya tidak mencakup keturunan Ibrahim a.s. yang zhalim. Ustadz Bachtiar Nasir menjelaskan, bahwa “zhalim” disini artinya adalah mereka yang musyrik (melakukan perbuatan syirik terhadap Allah).  Kepemimpinan atas manusia sejatinya tidak boleh dipegang oleh mereka yang menyalahi dirinya sendiri dengan menduakan Allah. Jika dirinya sendiri belum mampu ia selamatkan, maka tentulah ia tidak berhak atas kepemimpinan umat manusia lainnya. Ibn’ Abbas menjelaskan, bahwa keturunan Ibrahim as yang zhalim tidak pantas diberi kewenangan apapun meskipun mereka keturunan Khalil-Nya. Mujahid, salah satu ahli tafsir yang merupakan murid Ibn Abbas, juga menjelaskan bahwa lanjutan ayat tersebut bermakna “orang zhalim tidak bisa menjadi imam.”

Ya, karena takwa bukanlah sesuatu yang bisa diwarisi. Takwa adalah sesuatu yang harus diperjuangkan oleh masing-masing individu umat manusia, sebagai ujian bagi jiwanya, dan sebagai pembuktian untuk Sang Pencipta, manakah dari kita yang paling baik amal ibadahnya.

Ustadz mengulas sebagai kesimpulan, bahwa di ayat tersebut, Allah memberikan kesaksian kepada manusia tentang Ibrahim as yang telah mencapai kedudukan agung karena penyempurnaan dan pemenuhan janjinya kepada Allah. Ia telah berbuat adil kepada Allah. Maka dari ayat tersebut, tersirat makna bahwa keadilan dengan segenap maknanya merupakan asas untuk mendapatkan hak kepemimpinan dalam bentuk apapun. Sedangkan, siapa yang berbuat zhalim – apapun bentuknya – maka ia telah menjauhkan diri dari hak kepemimpinan.

Tadabbur yang diberikan pada malam tersebut, menjadi pengingat kita akan makna sebuah tugas kepemimpinan. Bahwa sejatinya, tugas terdepan seorang pemimpin adalah memimpin dirinya dan manusia sekelilingnya untuk menempuh jalan yang diridhai Allah SWT, jalan yang sejatinya, itulah satu-satunya jalan yang akan memberikan keselamatan dan kebahagiaan kepada seluruh umat manusia.

 

By: @MelitaRahmalia

(Yang belum pernah merasakan kelas ini, silakan datang ke AQL Islamic Center Jl. Tebet Utara I No. 40, Tebet, Jakarta Selatan, setiap hari Kamis, untuk bergabung di kelas Kamis Malam Tadabbur Al-Quran bersama Ustadz Bachtiar Nasir, jam 8 – 10 malam)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *