Browse By

Hari 3: Dakwah yang Tidak Membosankan

DAKWAH YANG
TIDAK MEMBOSANKAN

(Perspektif Retrorika Dan Psikologi Massa)
Oleh: Mustofa B Nahrawardaya

 24 Januari 2016

 

Dakwah berasal dari bahasa arab yang berbentuk isim masdar dari kata do’a – yadu’u – da’watan.

Menurut Syakul Islam Ibnu Taimiyyah, Dakwah adalah mengajak manusia beriman kepada Allah
Subhannahu wa ta’ala dan Rasullaah salallahu ‘alaihi wassalam dengan cara membenarkan apa yang
mereka beritakan dan mengikuti apa yang mereka perintahkan
Dakwah merupakan kewajiban setiap manusia. Dakwah dilakukan dengan sadar dan terencana
untuk mempengaruhi orang lain baik secara lisan, tulisan, maupun tingkah laku.
Adapun Misi dakwah, yakni Berdasarkan surat al imran ayat 104, yang atinya :
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh
kepada ma’aruf dan mencegaah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S.
Al Imran: 104)
Disini diterangkan Bahwa kewajiban muslim adalah menyerukan kebaikan bagi sesamanya. Mencari
keseimbangan antara amar ma’ruf dan nahi mungkar Sebab. Ibarat sebuah pesawat terbang, amar
ma’ruf dan nahi mungkar adalah kiri dan kanan sayap pesawat. kesimbangan terjadi jika keduanya
sama2 ada.

UNSUR-UNSUR DAKWAH…

Dalam proses dakwah tidak bisa dilepas dari unsur-unsur sebagai berikut :
1. Da’i – orang yang menyampaikan dakwah
2. Penerima – orang yg menerima dakwah
3. Materi – bahan yang didakwahkan
4. Metode – cara berdakwah
5. Media – pendukung cara berdakwah.
6. Tujuan berdakwah –
7. hasil – bentuk dari perubahan si penerima dakwah

 

STRATEGI DALAM DAKWAH…

trategi selalu berlaku dan tidak akan pernah usang, dalam dakwah strategi dapat di bagi kedalam 3
bagian :
1. Prinsip – prinsip dakwah harus bersumber pada islam
2. Strategi – proses /yang dilakukan sekarang dalam islam misalnya mengambil kesempatan untuk
berdakwah dan berkreatifitas agat dakwah tersebut tersampaikan ke penerima.
3. Hasil – hasil yg diperoleh harus islam. Contohnya: membuat orang lain yang tadinya tidak
mengerti tentang islam, menjadi mengerti.
Selalulah memulai dakwah dengan perencanaan agar dapat hasil yang bagus. Tidak bisa dengan
sekonyong-konyong berdakwah. Yang penting di ingat adalah :
§ Jika sudah mukallaf (akhil baligh) maka menjadi pendakwah adalah sebuah kewajiban, tidak
boleh ditunda.
§ Tidak perlu menjadi haji untuk menjadi pedakwah, tak perlu menjadi kyai untuk menjadi da’I dan
tak perlu menunggu jadi ustadz untuk menjadi penyampai risalah Nabi.
§ Tidak perlu menunggu menjadi orang sempurna, untuk menjadi pendakwah tak perlu menjadi
ulama untuk menjadi penyambung lidah Rasul.
§ MEMULAI jadi pendakwah adalah sekarang juga, dan mengakhiri berdakwah jika sudah dijemput
mati.

JALAN DAKWAH…
dijelaskan ada 3 cara :
1. Dengan Hikmah : seorang pendakwah harus mampu menyampaikan Al-Burhan al-aqli. Yakni
argumentasi yang logis (masuk akal). Tidak ada kamus “Pkokoknya” dalam berdakwah, maka adu
argumentasi adalah salah satu cara menemukan jalan yang lurus.
2. Muidzah hasanah : Seorang pendakwah harus mampu menjadi pemberi peringatan yang
handal. Menyentuh hati, meluluhkan kekerasan dan menjadi penyimpan nilai dan kisah agar
menjadi pelajaran.
3. Al jidal (perdebatan) : Prinsip perdebatan adalah mencari kebenaran dan kemenangan.
Caranya? Yakni dengan menjatuhkan argumentasi kebathilan dengan argumentasi kebenaran.

PRINSIP-PRINSIP DAKWAH…
1. Ikhlas mencari ridho dan pahala dari Allah Subhanahu wa ta’ala
2. Menempuh jalur hikmah. Jalur hikmah adalah menyampaikan kebenaran dengan logis sehingga
begitu mudah diterima oleh si penerima dakwah.
3. Mengetahui tabiiat jamaah dan sabar serta tabah dalam menghadapi cobaan.
4. Menguasai ilmu sesuai jamaah.
5. Menarik manfaat dan menjauhkan mudharat.
6. Menggunakan kekuatan jika hikmah, jidal, dan nasehat baik tidak mempan.
7. Menjadi teladan dalam beramal saleh.
Biasanya pendakwah yg menjadi teladan, ilmu yang didakwahinya akan lebih berhasil diterima
jamaah.

 

Sebagaimana diriwayatkan, yang artinya:
Apabila salah seorang diantara kamu melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubah dengan
tangannya. Apabila tidak mampu, maka dengan lisannya, dan apabila tidak mampu, maka dengan
hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.í (H.R. Muslim).
Dari Annas r.a, dia berkata, kami bertanya:
“Ya Rasulullah kami tidak akan menyuruh orang untuk berbuat baik sebelum kami sendiri
mangamalkan semua kebaikan dan kami tidak akan mencegah kemungkaran sebelum kami
meninggalkan semua kemungkaran.”
Maka Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Tidak, bahkan serulah kepada kebaikan meskipun kalian belum mengamalkan semuanya, dan
cegahlah kemungkaran meskipun kalian belum meninggalkan semuanya.”
Dijelaskan dalam Firmannya yang artinya :
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta`atlah; dan
nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya
maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. At-Taghabun : 16)
Adapun Area Dakwah dijelaskan yakni : Tidak terbatas, universal, bisa dimana sajah kepada siapa
saja, ada prioritas, dibetuk komunitas Mengumpulkan orang2, Terjangkau jarak dan terjangkau
ilmunya , sudah dikenal, terpetak rapih
Sedangkan untuk golongan massa dijelaskan dibagi kedalam beberapa gologan :
1. Golongan terdidik – berfikir kritis, kemampuan finasial baik, kemampuan otak diatas rata2,
kadang serius mendalami ilmu agama kadang justru sebaliknya; tidak bersungguh2.
2. Golongan awam – tidak kritis, kemampuan finansial buruk, ingin mendalami ilmu agama karena
memang pengetahuan agama masih dibawah rata2.
3. Golongan yang bukan keduanya – hanya ingin dikatakan orang yang ada eksis, tidak mencari
pahala, sadar tidak tahu tapi tidak mencari kebenaran.
Objek Dakwah menurut M. Natsir :
1. Kawan yang setia hidup semati (Mu’min)
2. Lawan yang memusuhi kita dari awal sampai akhir (Kafirun)
3. Lawan yang berpura-pura menjadi kawan, sambil menunggu saat yang tepat untuk menikam
dari belakang (Munafiqun)
Dijelaskan tiga (3) penyakit dalam Dakwah : (1) membosankan, (2) Tidak meninggalkan kesan, (3)
menyisakan dendam. Jadi Dakwah yang disampaikan haruslah dibuat sekeratif mungkin agar jamaah
tidak bosan dan dapat meninggalkan kesehan sehingga tidak menyinggung berbagai kalangan disana
yang menjadikan para jama’ah tidak ada yang menyisakan dendam.
Adapun tiga “Obat Penyakit” Dakwah, yakni : (1) mempelajari retorika, (2) mengubah metode, (3)
mengasah kemampuan. Jadi yang terpenting adalah bahwa Dakwah itu harus di Praktekan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *