Browse By

FINANCIAL PSYCHOLOGI : FENOMENA BATU AKIK

 

koleksi-batu-cincin

                Masyarakat Indonesia akhir-akhir ini sedang dilanda trend batu mulia (gemstone) dalam bentuk batu akik. Mayoritas menggunakannya untuk aksesories cincin, kalung atau sekedar koleksi. Fenomena ini semakin terbukti dengan mulai menjamurnya lapak-lapak akik baik di kios-kios sentra bisnis batu mulia seperti Pasar Gembrong, Jakarta Timur maupun lapak dadakan di pinggiran jalan. Akibatnya harga akik pun melambung karena permintaan naik. Tak heran pedagang musiman akik pun ikut bermunculan, sedangkan yang tadinya cuma sampingan bisa jadi sekarang jadi pekerjaan utama. Harga akik di banderol mulai dari kelas receh hingga ratusan juta rupiah. Di Sentra Batu Mulia Pasar Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur, akik low end seperti kalsedon, combing, paspor, kalimaya, dll dijual Rp. 10 ribu. Sementara akik jenis middle end seperti chalcedony, kecubung, pyernhite, Nigeria dan American black star harganya mulai dari 100 rb sampai 500 rb sebiji. Di segmen akik high end cincin Blue Sapheer harganya 900 jutaan, Blood Ruby 37 juta, Star Ruby 32 juta.

Praktisi  Ekonomi Forum Umat Islam, Sudadi Abu Abid, menjelaskan dalam ilmu Financial Psychology fenomena Batu Akik ini disebut “ Financial Mania”. Ia bisa membuat banyak orang tenggelam dalam “kegoblokan kolektif”. Para ahli ilmu financial behavior menyebut fenomena financial mania dengan istilah irrational exuberance. Inilah masa ketika ribuan bahkan jutaan orang berbondong-bondong membeli sesuatu karena dorongan emosi kolektif yang acap tidak rasional, papar beliau. Mengapa ada orang yang rela menebus sebuah cincin batu dengan duit ratusan juta bahkan milyaran rupiah??. Faktor keindahan si batu salah satunya. Namun biasanya keindahan itu dibumbui mitos-mitos tertentu yang bersifat mistik atau kekuatan supranatural. Ada yang mengatakan akiknya bergambar Nyi Roro Kidul, Yesus, Bunda Maria, Dewi Kwan Im, Candi Borobudur, dll. Koleksi tersebut ditawar mulai dari 600 juta sampai 3 Milyar. Fenomena ketidakrasionalan ini jadi mengingatkan kita pada fenomena “batu ponari” 6 tahun lalu. Alkisah akibat menemukan batu setelah kesambar petir dan dengan blow up media tiba-tiba Ponari (10 tahun) menjadi terkenal dan rumahnya di Jombang, JawaTimur didatangi ribuan orang untuk mendapatkan air celupan batu ponari yang dipercaya berkasiat untuk mengobati penyakit dan mendatangkan nasib baik. Bahkan air comberan bekas mandi ponari pun diperebutkan. Subhanallah. Kegilaan seperti inilah yang perlu kita waspadai di booming batu akik agar jangan sampai kita ikut gila dan bahkan sampai kea rah syirik.

Fenomena Batu sendiri dalam dunia Islam bukan sesuatu yang baru. Di tanah suci Mekkah zaman batu dimulai ketika pemimpin Bani Khuza’ah bernama Amr bin Luhay mengimpor budaya berhala dari Syam ke Mekkah. Hingga kemudian Ka’bah dikelilingi 360 patung berhala yang disembah kaum pagan setempat. Akibat investasi kemusyrikannya itu Amr bin Luhay yang secara humanis baik hati diganjar siksa nan dahsyat . “Aku melihat Amr bin Luhay ditarik ubun-ubunnya dalam neraka karena dialah yang pertama mengadakan bid’ah saaibah “ Sabda rasulullah yang diriwayatkan Imam Bukhari.

 

 

 

Dr Zain An-Najah, Ketua Majelis Fatwa dan Pusat Kajian Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia menjelaskan bahwa Islam juga mengajarkan sikap irrasional terhadap batu. Namun itu bukan digunakan untuk ber-tawashul (menjadikan perantara doa) apalagi menuhankan batu, melainkan sebagai ekspresi ketaatan pada Allah SWT. Misalnya mencium batu hitam dari surga (Hajar Aswad).  Saat haji atu umroh jamaah diwajibkan thawaf (tujuh kali mengelilingi ka’bah). Juga disunahkan mencium hajar aswad. Perintah mencium batu hajar aswad ini yang menjadi pesan bahwa dalam beribadah terkadang kita tidak tahu hikmahnya dan bahkan tidak masuk akal. Namun karena perintah Allah dan Rasul-Nya maka kita mengikutinya tanpa mencari alasan yang dibuat-buat.  Hal ini dicontohkan oleh Umar bin Khattab Ra yang berkata: Saya tahu kamu hanyalah sebuah batu, tidak memberikan madharat dan manfaat. Kalau bukan karena pernah melihat Rasulullah SAW menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu”. Bentuk keteladanan taat kepada allah dan Rasulnya sesuai perintah  Allah dalam QS Al Ahzab : 36, “ Dan tidak sepatutnya bagi laki-laki dan perempuan beriman, jika Allah dan rasul-Nya telah memutuskan suatu keputusan, aka nada pilihan lain dalam putusan tersebut. Dan siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh telah sesat dengan kesesatan yang nyata”

Hadist Nabi Muhammad SAW ada juga yang bercerita tentang keajaiban batu, misalnya batu ,yang bisa berbicara. Misalnya :

“ Kalian akan memerangi orang-orang yahudi sehingga seorang diantara mereka bersembunyi di balik batu. Maka batu itu berkata, ‘Wahai hamba Allah, inilah si Yahudi dibelakangku, maka bunuhlah ia” (HR Bukhori dan Muslim)

“Dalam hadist ini terdapat tanda-tanda dekatnya hari kiamat, berupa berbicaranya benda – benda mati, pohon dan batu” (Ibnu Hajar dalam Fathul Bari:6/610)

Disini kita diajak untuk tidak terjebak dalam cerita-cerita dengan bumbu-bumbu mitos yang membuat banyak orang terjebak dalam kegoblokan berjamaah karena sudah kehilangan akal pikiran dan terjebak hawa nafsu . Sebaliknya terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya ikutilah tanpa tapi seperti yang dicontohkan Umar dalam menyikapi hajar aswad sehingga akan terbentuk ketaatan berjamaah.

Oleh karena itu terhadap fenomena booming batu akik ini jangan bersikap berlebih-lebihan terhadap batu apalagi sampai terjebak dalam “financial mania” batu akik yang bisa menjerumuskan kita menjadi musyrik karena batu. Kemusyrikan atas batu akan dibalas oleh batu dengan menemani kita di hari akhir nanti dan bersatu dengan batu tersebut sebagai bahan bakar Neraka, “Maka jika kamu tidak dapat membuatnya…dan pasti kamu tidak akan dapat membuatnya…peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir (QS Al Baqarah:24).

So, ikhwah fillah pilih mana menyikapinya??Sikap seperti Amr bin Luhay atau sikap seperti Umar bin Khattab. Pilihan ada di tangan anda.

Wallahu ‘alam bish shawab

Abi Omaradiva (disadur dari Laporan Khusus Suara Islam Edisi 197)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *