Browse By

Hari 4: Public Speaking

NOTULEN ILA3

MATERI PUBLIC SPEAKING

 

Hari / Tanggal                      : Ahad / 31 Januari 2016

Pembicara                            : Yasier Utama

 

 

  • Proses komunikasi publik (public speaking) dimulai pada saat pembicara mulai masuk ke dalam ruangan dengan gaya dan energy yang dibawakan olehnya. Pembicara yang baik akan mengawali pertemuannya dengan audience dengan penuh keyakinan dan percaya diri serta dengan sikap tubuh yang menunjukan keantusiasan. Hal ini akan memberi kesan/ pengaruh kepada energy yang akan ditularkan kepada para audience.

 

  • Perlu disadari juga bahwa keahlian seseorang dalam melakukan public speaking adalah karena seringnya melatih diri. Public speaking bukan ditentukan dari bakat bawaan seseorang, tetapi dari keahlian yang dilatih secara terus menerus.

 

  • Secara garis besar ada 3 macam cara belajar manusia, yaitu:
  1. Visual : lebih condong kepada penglihatannya
  2. Audio : lebih condong kepada pendengarannya
  3. Kinestetik : lebih condong kepada gerakan tubuhnya

 

  • Macam-macam tipe pembicara, yaitu:
  1. Bombastik : ciri banyak gerak
  2. Karistimatik : elegan, anggun
  3. Antusias : penuh semangat
  4. Fantastis : mengagumkan

 

  • Seorang pembicara itu perlu memperhatikan situasi di lapangan, yaitu dengan tetap memperhatikan prinsip “Situation is the Bos” (Menyesuaikan situasi).

 

  • Seorang pembicara harus penuh energy. Pancarkan di wajah kita karena wajah seseorang merupakan media untuk memancarkan energi apa yang ingin kita transfer kepada para audience.

 

  • Pembicara perlu perhatikan rumus BEL:

Body               : jaga body

Emotion          : jaga emosi

        Language       : jaga bahasa/ kata-kata

 

  • Kata-kata sangat memberikan pengaruh alam bawah sadar bagi setiap diri manusia, Kata-kata yang positif seperti “saya kuat, saya mampu, saya bisa” akan memberi energy kekuatan kepada kita dan pada akhirnya kita mampu melakukan seperti yang kita yakini tersebut. Begitu juga halnya untuk kata-kata yang bersifat negatif. Jika kita mengucapkan kata-kata yang bersifat negatif, seperti; “saya lemah, tidak mampu, dan tidak sanggup” maka tubuh kita pun akan merespon sesuai dengan apa yang kita ucapkan untuk diri kita sendiri.

 

  • Kalau mau menjadi pembicara yang baik, berhentilah membandingkan dan kita juga harus dalam kondisi relax sebelum kita berbicara di depan audience.

 

  • Kondisi emosional seseorang terdiri dari 4 gelombang kesadaran, yaitu:
  1. BETA : kondisi alam sadar, misalnya ketika sedang stres
  2. ALFA : kondisi agak tenang, misalnya ketika berdoa
  3. TETA : kondisi seperti mengantuk
  4. DELTA : kondisi relax, misalnya tidur 10 menit bangun lebih segar

 

  • Kalau kita belum dalam keadaan relax, maka akan sering muncul kata-kata yang kurang bermakna yang keluar dari ucapan kita, misalnya sering mengucap kata “eee” “gitu loh” “iya kan?” “mmmm” dst.

 

  • Salah satu cara melatih menghilangkan kebiasaan mengucapkan kata-kata tersebut ialah dengan seringnya berbicara sendiri tentang apa saja yang terlintas di pikirannya tanpa berhenti tanpa jeda. Pada awalnya mungkin kata-kata/ cerita yang diucapkan tidak memiliki kesambungan cerita, tetapi lakukan saja terus karena pada akhirnya kita akan mampu membuat cerita yang bersambung dan berbicara dengan lancar.

 

  • Cara lain yang dapat dilakukan ialah dengan berbicara sendiri dengan cara mengkoneksikan satu benda dengan benda lainnya menjadi suatu cerita yang utuh/ memiliki kesambungan cerita.

 

 

 

 

 

 

Pertanyaan ke-1

Jika kita berbicara di depan khalayak umum sebaiknya pandangan kita, kita arahkan ke mana? Apakah sebaiknya kita menatap mata audience, menatap jidatnya / menatap diantara matanya, atau mungkin bahkan menatap bibir audience?

Jawaban:

Sebenarnya tidak ada acuan khusus kemana seharusnya kita mengarahkan pandangan kita ketika sedang berbicara di depan. Tidak masalah jika kita memandang mata audience, atau memandang jidatnya, atau pula memandang di antara kedua matanya, tetapi usahakan jangan melihat ke bagian bibir peserta.

 

Pertanyaan ke-2

Apakah public speaking itu perlu dilatih secara terus menerus, karena saya pernah mengalami grogi/ gugup jika di depan umum?

Jawaban:

  • Bebicara di depan umum adalah suatu keterampilan bukan bakat dari seseorang. Ada suatu penelitian dari ahli John X Maxwell bahwa keterampilan seseorang dapat mencapai puncaknya jika sudah melatih sampai mencapai 10.000 jam. Jadi teruslah melatih berbicara di depan umum karena itu merupakan proses pengembangan keterampilan kita.
  • Perhatikan prinsip 5 E berikut ini, yaitu:
  1. Eksplore : latih terus menerus
  2. Easy : nantinya akan terasa mudah
  3. Enjoy : merasa nyaman
  4. Excellent : menjai ahli di bidangnya
  5. Earn : mendapatkan honor

 

 

 

 

 

 

Pertanyaan ke-3

Bagaimana caranya menata mental kita ketikaorang yang kita kampanyekan di depan khalayak umum ternyata tidak memenangkan pemilihan pemimpin Kota Jakarta? Saya pernah berbicara di depan ribuan peserta saat menjadi MC di acara yang mengkampanyekan calon pemimpin Jakarta Bpk. Fauzi Bowo. Tetapi ketika ternyata Bpk Fauzi Bowo tidak terpilih pada akhirnya banyak orang-orang yang mencemooh saya ketika ternyata apa yang saya sampaikan di kampanye tersebut tidak membuahkan hasil yang baik.

Jawaban:

Hal utama yang perlu kita perhatikan adalah menjaga niat kita bahwa tujuan berbicara di depan umum bukanlah untuk mendapatkan pujian dari orang-orang. Kita harus membuang mental blok seperti itu agar tidak menjadi beban bagi kita. Hal ini bertujuan supaya kita bisa lebih relax saat berbicara di depan umum. Being speaker is not about popularity contest. We cannot make everybody happy. Jadi kita tidak perlu takut dan khawatir kalau ada yang tidak suka dengan kita.

 

 

Pertanyaan Ke-4

Mengapa pada saat kita berbicara di depan umum terkadang kita mengalami keadaan yang tidak nyambung antara apa yang diucapkan dengan apa yang ada di dalam otak pikiran kita?

Jawaban:

Ketidakkoneksian antara apa yang diucapkan dengan apa yang terlintas di pikiran kita dapat kita siasati dengan cara memperbanyak kosa kata tentang materi yang akan kita sampaikan. Salah satu caranya ialah dengan banyak membaca bacaan yang menjadi kesenangan/ passion bagi kita. Grape our audience with passion. Banyaknya kosa kata/ perbenaharaan kata-kata di dalam pikiran kita akan dapat membantu kita agar memiliki koneksifitas antara apa yang dipikirkan dengan apa yang kita ucapkan.

 

 

 

 

 

Pertanyaan Ke-5

Apakah kiranya yang menjadi motif seseorang jika menunjuk kita secara langsung tanpa persiapan untuk mempresentasikan tender proyek tertentu?

Jawaban:

Motif apa yang mendasari orang tersebut hanya dirinya dan Allah SWT saja yang tahu. Kita cukup melihat sisi positifnya saja bahwa hal tersebut merupakan suatu pengalaman berharga karena merupakan pembelajaran bagi kita untuk dapat menguasai komunikasi public secara langsung tanpa persiapan tertentu. Hal tersebut dapat melatih komunikasi kita dan juga mental kita sebagai pembicara di kemudian hari. Dalam public speaking hal seperti ini diistilahkan dengan istilah “improve to” (dadakan). Jika diawal-awal mungkin kita tampil kurang maksimal, tetapi jika sudah sering melakukannya maka nantinya kita akan terbiasa menghadapi keadaan yang seperti itu. Kita harus ingat prinsip P + R = H, yaitu Peristiwa ditambah Respon akan menentukan Hasil. Jadi, tangkaplah moment tersebut, ambil positifnya sebagai pembelajaran bagi kita untuk melatih diri menjadi seorang pembicara yang baik.

 

 

Pertanyaan Ke-6

Persiapan apa saja yang sekiranya perlu kita lakukan untuk dapat menjadi seorang pembicara yang baik?

Jawaban:

Selain doa dan tawaqal kepada Allah SWT kita juga perlu menyiapkan mental kita dengan baik. Think like a designer. Berpikir seperti sorang designer. Kita perlu perhatikan hal-hal penting yang dapat menjadi kunci keberhasilan pembicara, diantaranya penguasaan materi yang akan disampaikan dan juga kita perlu melakukan audience analysi, yaitu mencari tau dan menganalisis siapa yang menjadi audience kita nantinya.Jika hal tersebut sudah kita persiapkan dengan matang, maka hal tersebut akan dapat membantu kita untuk dapat menjadi seorang pembicara yang baik.

 

_____________ ooo _____________

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *