Browse By

IBU.. SIMBOL KASIH SAYANG & CINTA SEJATI

Kaasihh Ibu…, Kepada Beta…..

Tak terkira sepanjang masa…..

Hanya memberi……. tak harap kembali….

Bagai sang Surya….. Menyinari Dunia

 

Sepenggal lirik tersebut mengingatkan kita kepada sosok makhluk yang paling tulus memberikan cintanya kepada kita, Ibu. Bagiku, Ibu adalah malaikatku, pelindungku dan surgaku.

 

Adakah momen yang spesial dengan tanggal 22 Desember 2016?

Benar, tanggal tersebut merupakan tanggal Nasional “Peringatan Hari Ibu”. Peringatan ini tentunya tidak bertujuan untuk hal-hal yang terkait dengan perihal yang sekedar seremonial saja, atau hura-hura/ramai-ramai yang tidak substansial, tetapi momen ini haruslah dimaknai dengan sungguh-sungguh dan dapat menggugah serta mengingatkan kita semua betapa mulianya kedudukan seorang “Ibu” dalam kehidupan umat manusia, tanpa menafikkan peran  “Bapak”

Tak heran apabila ada pepatah yang menyatakan  cinta ibu sepanjang jalan, cintak anak sepanjang galah. Hal tersebut menjabarkan betapa istimewa dan mulianya cinta ibu, yang selalu tak pernah lepas dan lekang oleh zaman. Apapun yang pernah kita lakukan, berupa kesalahan yang kita perbuat, entah bagaimana,  Ibu akan selalu tetap menerima kita.

 

Perintah Allah SWT untuk

Memuliakan Orangtua (Ibu)

Sesungguhnya Allah SWT, melalui firmannya dalam Al-qur’an dan Raslullah SAW, memerintahkan dan menganjurkan dalam haditsnya agar menghormati, memuliakan, mentaati perintah untuk tidak bermaksiat kepada Allah SWT. Allah SWT memerintahkan untuk selalu menyayangi keduanya sampai akhir hayatnya, atau selalu mendo’akannya ketika keduanya sudah wafat.

Perintah ini disebutkan di dalam beberapa ayat Al-qur’an dan Al-Hadits  yang lebih   menekankan  berbakti kepada  Ibu, sebagaimana dalam hadits berikut ini:

 

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا

رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟

قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

 

 

Sayangilah Ibumu, Ibumu, Ibumu

Mengapa Rasulullah SAW memerintahkan untuk menghormati seorang “Ibu” dalam tiga kali dari seorang “Ayah”? Apabila kita coba cermati secara seksama, maka akan kita temukan beberapa alasan yang mendasarinya, yang mana alasan itu juga disebutkan dalam ayat Al-qur’an maupun Al-hadits.

 

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ

 

شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ

 

عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي

 

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya, Bapak dan Ibunya. Sang Ibu mengandung dengan susah payah dan melahirkan dengan susah payah (pula). Mengandungnya sambil menyapihnya dalam 30 bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan usianya telah mencapai  40 tahun, Ia akan berdo’a : Yaa…. Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada Ibu Bapakku, agar supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak dan cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (QS. Al-Ahqaaf: 15)

 

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah saw bersabda :

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata : Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Rasul menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Rasul menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Rasulpun tetap menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Rasul pun akhirnya menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548).

 

Pendapat Imam Al-Qurthubi dalam menjelaskan hadits tersebut adalah :

“Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak “tiga kali, sementara kata Ayah hanyalah satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut.

Alasan dari makna penyebutan Ibu sebanyak tiga kali adalah karena hanya seorang ibu lah yang merasakan kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, dimana seorang ayah tidak memilikinya. (Tafsir Al-Qurthubi X : 239)

 

Perintah untuk Menyayangi Ibumu (orang tua mu) saat usia mereka telah lanjut

Perintah untuk menyayangi dan merawat orang tua saat usia lanjut, sesuai dengan perintah yang disebutkan di dalam Al Qur’an sbb:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia. Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan perkataan “ah”, dan janganlah kamu membentak mereka. Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra: 23).

 

Ibu dan Peran Emansipasi Wanita :

Apa yang membedakan antara Ibu dan  peran emansipasi wanita.  Pada dasarnya  Ibu adalah sosok yang mengasuh, membesarkan anak, mendidiknya  untuk  menghadapi kehidupan di masa depan.

Namun, perlu dipahami bahwasannya tuntutan kaum wanita dalam Konsep Emansipasi Wanita / kesetaraan gender, mengalami banyak penyimpangan, dalam hal ini pihak Barat mencoba untuk mensosialisasikan  kesetaraan hak dan kewajiban antara  pria dan wanita, hanya lewat akal, sementara pada prakteknya kesetaarn gender sendiri kemudian menjadi boomerang bagi para aktifis feminisme, karena dalam beberapa kasus, wanita pun meminta perlakuan khusus,  dalam banyak perihal yang terkait kepada kebutuhan fisik.

Wanita modern saat ini, sejatinya haruslah bijak menempatkan diri , guna memenuhi fungsinya sebagai wanita, dari skala terkecil, pada kehidupan pribadi, kehidupan professional bahkan kehidupan social.

Wanita yang mandiri secara finansial, memiliki kerentanan cukup besar dalam terjadinya “perceraian”, namun di satu pihak, ketidakmandirian secara finansial menimbulkan bentuk ketergantungan perempuan atas pendapatan pria (suami), yang  menjadikan wanita tidak memiliki hak yang penih sebagai istri, ini pun sering menimbulkan  risiko “Tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga”.

Inilah yang kemudian kerap kali berpotensi sebagai permasalahan klasik, yang tak berujung, di mana akan selalu terus menerus menjadi permasalahan yang sama dan berkelanjutan di masa depan.

 

Peran Ibu dalam Islam :

Peran  Ibu/ wanita dalam Islam, adalah  mendidik generasi Islam yang tangguh, tangkas dan cerdas, serta memiliki Iman yang kuat kepada Allah SWT. Peran sebagai ibu sangatlah mulia, karena wanita/ istri yang cerdas memiliki status yang lebih mulia dibandingkan dengan bidadari surga.

Jika Anda mengingat tentang cerita sosok istimewa, “Malin Kundang”, akhirnya berubah menjadi batu karena telah durhaka kepada ibunya, dengan menghardik dan mengusir ibu kandungnya. Padahal seharusnya dia tahu bahwasannya kewajiban menghargai dan memuliakan Ibu, menjadi hal utama yang harus dilakukan anak kepada orang tuanya.

Semoga saja dengan diperingatinya hari Ibu ini,  dapat memberikan pemahaman tentang “status sebagai “IBU” dan menambah rasa cinta yang lebih dari anak-anaknya kepada semua Ibu di manapun mereka berada. [ Asqarini]

 

Daftar Pustaka :

  1. Sumber: https://muslimah.or.id/1861-ibumu-kemudian-ibumu-kemudian-ibumu.html
  2. http://belajar-tobat.blogspot.co.id/2014/12/derajat-ibu-dalam-islam.html
  3. https://anangnurcahyo.wordpress.com/2011/01/27/islam-memuliakan-ibu/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *