Browse By

INDONESIA DI TAHUN 2025

INDONESIA DI TAHUN 2025
By : Sherly Annavita Rahmi. Universitas Paramadina
youngresercher@gmail.com

Indonesia adalah negara yang kaya dengan sumber daya alam. Terdapat lebih dari
25.000 jenis tumbuhan dan hewan1 (8000 diantaranya adalah jenis tumbuhan yang resmi
telah tercatat jenisnya2) berkembang di Indonesia, yang semua itu akan menjadi fosil dan
mengalami metamorfosis di dalam bumi menjadi minyak, gas, dan lain sebagainya. Hanya
saja pembentukan minyak bumi dan gas di dalam perut bumi tersebut membutuhkan waktu
yang sangat lama, sehingga tergolong menjadi energi yang tidak dapat diperbaharui.
Melihat sedikitnya dua fakta yang terjadi, terkait minyak dan gas bumi tersebut,
yaitu :
1. Minyak dan gas bumi di Indonesia semakin langka.
Indonesia memang pernah menjadi negara yang mememiliki potensi sumber minyak
yang besar, sehingga pernah menjadi anggota OPEC3. Namun ketersediaan minyak, gas
dan bahan bakar lainnya semakin langka.
Berikut adalah catatan direktur umum energi dan sumber daya mineral, DR. Kardaya
Warnika, tentang potensi dan produksi energi fosil 2011.

gambar1

Data tersebut membuktikan bahwa energi fosil yang kita gunakan lebih besar
daripada yang kita hasilkan. Hal inilah yang membuat ketersediaan energi fosil tersebut
semakin langka dan mahal. Sehingga data menunjukkan minyak bumi Indonesia akan
habis terkuras dalam rentang waktu kurang lebih 12 tahun yang akan datang.

2. Dampak terhadap lingkungan
Selain ketersediaannya yang semakin langka, efek dari penggunaan energi fosil juga
berpengaruh pada lingkungan yang menjadi tempat tinggal seluruh umat manusia. Salah
satu dampak negatif yang ditimbulkan oleh penggunaan energi fosil ini adalah efek rumah
kaca yang pada gilirannya akan mempengaruhi pemanasan global.
Efek rumah kaca yang membuat pola iklim tidak teratur, es mencair di kutub
sehingga permukaan air laut naik mengakibatkan sejumlah daratan/pulau tenggelam,
pemanasan global serta dampak domino lainnya tersebut sudah menjadi isu global dan
dianggap masalah yang serius oleh masyarakat internasional. Hal ini terbukti dengan
diadakannya Stockholm Conference, Konferensi pertama PBB pada Juni 1972 di Sweden,
yang membahas mengenai isu lingkungan. Konferensi ini menghasilkan resolusi yang
kemudian mempengaruhi kebijakan Uni Eropa terhadap Lingkungan dan pembentukan
Protokol Kyoto.
Maka, sudah selayaknya kita mulai menerapkan energi alternatif sebagai upaya
untuk mengkonsevasi sumber daya energi yang kian menipis dan berdampak pada
lingkungan tersebut.

Energi Matahari (Solar Project) sebagai alternatif
Indonesia terletak pada posisi yang sangat strategis; antara dua benua dan dua
samudera, sehingga negara kita memiliki dua angin muson yang selalu berhembus. Letak
geografis Indonesia juga sangat tepat untuk mendapatkan langsung sinar matahari (surya),
sehingga kita disebut zamrud khatulistiwa. Belum lagi Indonesia sebagai negara maritim
yang memiliki sumber energi arus laut serta sejumlah tanaman yang dapat diolah menjadi
bioenergi. Kesemuanya itu siap menggantikan energi fosil yang ketersediaannya semakin
langka dan membawa dampak negatif yang besar bagi lingkungan.
Sadar akan menipisnya ozon, yang menyebabkan terik matahari kian menyengat,
maka saya melihat bahwa pemanfaatan sumber energi matahari akan sangat efektif dan
efisien di Indonesia.
gambar2

Penggunaan energi matahari (surya), merupakan salah satu bentuk penghijauan
proses produksi sehingga secara tidak langsung telah menjawab masalah perubahan iklim
(Climate Change) yang menjadi isu penting dalam skala global saat ini. Selain itu,
penggunaan energi matahari sebagai sumber energi akan jauh lebih aman, nyaman
(confortable), serta menambah tingkat produktifitas manusia. Hal ini disebabkan karena
matahari (surya) yang dijadikan sebagai sumber enegi utama merupakan kekayaan alam
yang tidak pelru dibeli dan tingkat ketersediaannya adalah tanpa batas di dunia ini. Siapapun
bisa mendapatkan energi ini. Hanya saja, yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah :
“Bagaimana mengolah energi matahari menjadi sumber energi yang dapat digunakan dalam
produktifitas sehari-hari ?”

Penerapan di Lingkungan

If you wanna change something, you have to change something (Bernie Luskin)

Merubah satu kebiasaan yang sudah mendarah daging memang bukan hal yang
mudah. Demikian juga halnya merubah pola pikir masyarakat Indonesia tentang pengalihan
energi fosil menuju konservasi energi. Akan banyak tantangan yang dihadapi, bahkan bisa
jadi masyarakat melakukan penolakan. Akan tetapi saya optimis, apabila pemerintah juga
ikut turun tangan dalam mengupayakan pengalihan energi ini, tidak hanya di kota-kota
besar, namun juga di desa-desa, maka Indonesia di tahun 2025 dapat me-reduce
penggunaan energi fosil.
Upaya peralihan penggunaan energi fosil menuju konservasi energi sudah barang
tentu membutuhkan campur tangan pemerintah. Melihat kondisi masyarakat di tempat
tinggal saya : Jakarta Selatan, serta daerah asal saya : Aceh, maka saya menganalisa bahwa
terdapat lima hal yang harus kita lakukan secara bersama-sama untuk menuju Indonesia
dengan konservasi energi di tahun 2025. Kelima hal tersebut terangkum dalam Circle of
Implemantation of Solar Project
berikut :

gambar3

1. Sosialisasi
Fakta yang terjadi adalah masyarakat pada umunya mengetahui bahwa
ketersediaan sumber energi fosil seperti minyak dan solar semakin sedikit, namun
belum mengetahui alternatif yang dapat dilakukan untuk menggantikannya.
Masyarakat masih memiliki paradigma bahwa minyak adalah bahan bakar utama
yang paling sederhana. Sehingga sosialisasi menjadi PR penting bagi kita semua saat
ini. Sosialisasi dapat dilakukan melalui gerakan massal sosial media, melalui audio
visual, poster massal, iklan, bahkan sampai pembagian kaos dengan slogan
konservasi energi secara gratis ke “tukang becak”, “pedagang kaki lima”, “supir dan
kenek angkot”. Ini akan menjadi media sosialisasi yang ampuh bagi masyarakat kelas
menengah ke bawah. Kenapa ? Karena semakin banyak masyarakat dari berbagai
lapisan yang melihat dan sadar akan pentingnya konservasi energi ini, maka sacara
tidak langsung sudah tertanam dalam alam pikiran bawah sadar mereka bahwa
suatu saat Indonesia akan mengganti energi fosil ke energi alternatif, salah satunya
adalah matahari.

2. Daerah Percontahan yang disubsidi
Untuk mengawali langkah penggunaan Solar Project ini, dibutuhkan Role
Model Area, yang tentu saja daerah percontohan ini akan mendapat subsidi dari
pemerintah. Dengan adanya daerah yang menjadi Role Model, maka daerah-daerah
lainnya akan mendapat contoh nyata dan konkret dari upaya pengkonversian energi.
Hal ini akan lebih memudahkan pebentukan paradigma masyarakat bahwa,
menggunakan energi matahari (Solar Project) tidak sesulit yang mereka bayangkan
dan lebih banyak mendatangakan dampak positif, baik bagi masyarakat mapun bagi
lingkungan.

3. Distribusi barang
Setelah melakukan wawancara pada 37 masyarakat disekitar tempat tinggal
dan di pedesaan, rata-rata jawaban mereka ketika ditanya mengenai konversi energi
yaitu : “Bagaimana kita mau beralih ke energi matahari ? Sedangkan pemerintah
saja tidak menyediakan perlengkapan dan distribusi barangnya di pasar. Semua itu
masih terlalu sulit untuk didapatkan oleh warga seperti kami”
Mengacu pada sebahagian besar jawaban yang pesimis dengan kinerja
pemerintah dalam melakukan upaya konversi enegi dari fosil ke matahari, maka
distribusi barang-barang yang dapat digunakan dengan memanfaat cahaya matahari
menjadi satu langkah penting untuk di lakukan. Distribusi alat-alat keperluan rumah
tangga, industri, bahkan transportasi yang memanfaatkan energi matahari masih
sangat langka di Indonesia. Sehingga masyarakat Indonesia merasa bahwa langkah
untuk melakukan konversi energi masih sangat sulit untuk diimplementasikan.
Untuk memotong pola pikir seperti ini, maka perlahan tapi pasti, sudah
saatnya pemerintah memperbanyak dan memperluas distribusi alat-alat yang
menggunakan matahari sebagai sumber energinya, seperti Solar Project yang telah
dikenalkan oleh beberapa perusahaan. Meskipun sudah dikeluarkan oleh beberapa
perusahaan, akan tetapi upaya untuk penerapan Solar Power and Demand ini harus
didukung penuh oleh pemerintah sebagai pemegang kebijakan dan pengatur
keuangan negara.

4. Mengurangi (Reducing) ketersediaan energi fosi
Setelah upaya pendistribusian barang diperluas, maka langkah selanjutnya
adalah dengan mengurangi ketersediaan energi fosil. Dengan menyediakan bahan
penggantinya/alternatifnya terlebih dahulu di pasar, kemudian perlahan-lahan
mengurangi jumlah peredaran energi fosil, maka mau tidak mau masyarakat akan
beralih ke energi alternatif/konservasi energi. Masyarakat perlu dipaksa untuk mau
menggunakan energi alternatif tersebut. Hanya butuh pembiasaan bagi masyarakat
dalam beradaptasi dengan penggunaan Solar Project. Salah satu Upayanya adalah
dengan me-reduce (mengurangi) jumlah peredaran energi fosil setelah disediakan
terlebih dahulu Solar Project tersebut

5. Implementasi Masyarakat
Sebagai tujuan jangka panjang penerapan Circle of Implementation of Solar
Project, yaitu implementasi masyarakat menggunakan energi matahari dalam
memproduksi dan berkegiatan dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *