Browse By

ISLAM DAN MODERNITAS : SEBUAH REFLEKSI MORAL DAN POLA PIKIR MASYARAKAT INDONESIA DALAM KEHIDUPAN BERNEGARA

ISLAM DAN MODERNITAS : SEBUAH REFLEKSI MORAL
DAN POLA PIKIR MASYARAKAT INDONESIA DALAM
KEHIDUPAN BERNEGARA
Oleh : Sherly Annavita Rahmi

Latar Belakang
Masyarakat internasional telah menyadari bahwa sejak akhir abad ke-19
hingga sekarang, modernisme muncul sebagai sebuah paradigma baru sebagai
akibat dari globalisasi. Dalam waktu singkat, paham modernisme telah mengalami
perkembangan dan pengadaptasian yang pada gilirannya ikut mempengaruhi sistem
tatanan sosial dan manusia sebagai aktor utama dalam kehidupan, bahkan konsep
dan nilainya diaplikasikan dalam berbagai bidang, mulai dari filsafat, arsitektur,
sastra, ekonomi, sosial, budaya, politik bahkan sistem pemerintahan yang
diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.1
Pertengahan abad ke-19, tepatnya pasca perang dingin menjadi awal
pengadaptasian modernitas dalam sistem politik dan hubungan internasional. Pola
hubungan antar bangsa dan negara menjadi bertingkat dan berkelas, antara negara
maju dan negara dunia ketiga. Kondisi seperti inilah yang pada akhirnya ikut
mewarnai sistem politik internasional, hingga pada akhirnya diadaptasi oleh negara
sebagai sistem dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di teritorinya. Hebatnya
lagi, sistem modernisasi yang didominasi oleh paham objektivisme dan
konstruktivisme Barat ini, berhasil melewati filterisasi mental dan pola pikir umat
Islam yang sudah ada dan mengalami fase kejayaan di dunia jauh sebelum Perang
Dingin. Kemunduran Umat Islam, khususnya Kekhalifahan Ustmaniyah pada awal
abad ke 15 memberikan celah besar bagi modernitas barat untuk masuk di
panggung paradigma dunia dan menarik perhatian masyarakat internasional,
bahkan berkembang menjadi virus yang tak terdeteksi pada realitas sosial hingga
saat ini.

Indonesia sebagai Target Modernitas
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Indonesia merupakan salah satu negara
yang memiliki bonus geografi dan demografi. Secara geografi, Indonesia terletak
pada posisi yang sangat strategis; antara dua benua dan dua samudera, bahkan
posisinya berada di sentral kawasan Asia Pasifik yang kini tengah bangkit dan
menunjukkan eksistensinya dalam kancah perpolitikan internasional. Sedangkan
dari sudut pandang demografi, Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk
terbesar ke-4 di dunia; setelah China, India dan Amerika Serikat.2 Selain itu,
Zamrud Khatulistiwa ini juga dinobatkan sebagai negara dengan mayoritas jumlah
penduduk muslim terbesar di dunia. Berikut adalah data Badan Pusat Statistik yang
dikutip dalam buku Proyeksi Penduduk (Indonesia Population Projections)
Indonesia 2010-2035 disusun oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional,
Badan Pusat Statistik dan United Nations Population Fund tahun 2012 :
Menurut data BPS, pada tahun 2010 jumlah penduduk muslim di Indonesia
mencapai 87,18%, atau 207.176.162 juta jiwa. Angka yang sangat kontras jika
dibandingkan dengan jumlah pemeluk agama lain yang hanya mencapai 7%.
Meskipun angka ini kian menurun di tahun 2014, namun posisi mayoritas tetap
dipegang oleh pemeluk agama Islam hingga saat ini.

Berangkat dari data tersebut, maka menarik jika fenomena modernitas yang
masuk dan mempengaruhi mental dan pola pikir masyarakat Indonesia dijadikan
sebagai sebuah refleksi moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena
pada hakikatnya Islam sebagai Din, yaitu Dinul Islam, bukan hanya semata-mata
sebuah kepercayaan dan agama, melainkan jalan hidup yang aplikatif dan solutif
dalam melihat sebuah realitas dan masalah sosial. Islam menawarkan konsep
kehidpan yang komperhensif mulai dari menjaga hati dan kepribadian (self
development) hingga kehidupan sosial politik dalam berbangsa dan bernegara.
Dengan konsep dasar Tauhidullah, Islam mampu hadir dan menjadi
tamaddun/peradaban, bukan hanya untuk satu bangsa/negara saja, melainkan untuk
seluruh masyarakat dunia.
Faktanya saat ini, paham modernitas masuk seolah menggantikan konsep Islam
dalam memandang kehidupan ini, termasuk di Indonesia. Realitas yang ditentukan
berdasarkan kebenaran universal yang ditentukan oleh manusia seoalah menjadi
sebuah konsep yang wajar dan masuk akal bagi masyarakat bahkan para intelektual
saat ini, bahkan mengalahkan Realitas dan Kebenaran Wahyu yang bersumber dari
Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal ini yang pada akhirnya menggiring masyarakat
untuk memandang segala sesuatu sebagai sebuah relatifitas sosial, dan menggulma
dalam mental dan pola pikir masyarakat muslim, termasuk di Indonesia.
Masuk dan berkembangnya modernitas pada mental dan pola pikir
masyarakat Indonesia menggantikan posisi Islam menjadi sebuah pertanyaan besar,
apakah modernitas memang lebih baik dari Islam dalam memandang dan
memberikan solusi terhadap sebuah permasalahan ? atau ada yang salah dengan
mental dan pola pikir umat Islam Indonesia saat ini, yang notabanenya adalah
“manusia” sebagai aktor yang menjalankan ajaran Islam tersebut ? Karena pada
gilirannya, refleksi dari keduanya dalam mental dan pola pikir masyarakat akan
sangat mempengaruhi kehidupan berbengasa dan beragama disuatu negara,
khususnya Indonesia.
Islam dan Modernisasi

Sebelum membahas lebih lanjut tentang refleksi moral dan pola pikir
masyarakat Indonesia, penulis mengajak untuk melihat secara objektif tentang
modernitas yang saat ini tengah berkembang dan dijadikan sebagai kiblat pemikiran
barat dalam memahami realitas sosial di masyarakat, serta bagaimana Islam
memandang hal tersebut.
Modernitas dalam Teori Post-Modernisme
Post-modernisme, menurut ahli kriminologi John Crank merupakan
perangkat filsafat, metodologi dan tinjauan kritis mengenai masyarakat masa kini
yang memuat berbagai sudut pandang.3 Pendapat ini yang kemudian diterjemahkan
oleh William Bergquist bahwa dunia post-modernis bukanlah soal fakta dan
gambar, namun lebih menyoroti tentang kisah dan tindakan manusia sebagai aktor
sosial dalam kehidupan.4 Pandangan tersebut mengindikasikan bahwa hal penting
diangkat dalam sebuah realita adalah “kisah dan tindakan manusia”, sehingga dua
paham yang mendominasi era post-modernisme adalah objektivisme dan
konstruktivisme.5
Post-modernis menyebutkan objektivisme sebagai modernitas, yaitu sebuah
konsep yang menyatakan bahwa secara objektif realitas dapat ditentukan
berdasarkan kebenaran universal dan membuat keputusan berdasarkan penemuan
manusia. Sedangkan kontruktivisme menyebutkan bahwa manusia hidup dalam
realitas yang mereka kontruksi sendiri berdasarkan situasi dimana mereka
menemukan diri mereka berada, baik lingkungan, ras, gender, maupun konteks
sosial antar manusia.6 Dengan kata lain hakikat realitas dibentuk oleh tingkat
pemahaman manusia terhadap lingkungan sosialnya. Jean Francois Lyotard
mempertegas bahwa paham modernitas dalam konteks sosial menekankan bahwa
tidak ada kebenaran universal, yang ada hanya kebenaran individual.

Islam dalam memandang Modernitas
1. Islam mengakui kebenaran Universal sebagai ketetapan mutlak yang
dijadikan landasan berpikir dan bertindak. Kebenaran universal bersumber
dari Al-qur’an dan As-Sunnah. Pengembangan dan dikotomi ilmu serta
penerapannya adalah sebuah upaya Ijtihad yang dilakukan ulama, hingga
menemukan titik temu dalam memecahkan sebuah permasalahan sosial,
termasuk kehidupan Bernegara.
2. Realitas sosial menjadi penting dalam berkehidupan bernegara dan
beragama dalam sudut pandang Islam terutama dalam mengambil
kebijakan, sikap dan keputusan demi kemashlahatan masyarakat, namun
bukan sebagai penentu kebenaran. Konsep ini yang pada gilirannya
memberikan pengertian bahwa Islam sangat menghargai perbedaan sudut
pandang, selama masih berada dalam tataran syar’i. Sebagai contoh,
perbedaan metode pengangkatan Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali sebagai
sebagai pemimpin di zamannya. Pengangkatan Abu Bakar melalui
penunjukan langsung, Umar dan Usman melalui dewan Syura, sedangkan
Ali ditanyai langsung kepada masyarakat.
8 Perbedaan ini muncul karena
adanya penyesuaian metodologi karateristik sosial masyarakat. Sehingga
dengan kata lain Islam sangat mengakui adanya realitas sosial yang terjadi,
bahkan dijadikan acuan dalam mengambil keputusan, namun bukan sebagai
penentu kebenaran.
3. Di dalam Islam tidak ada konsep relatif dalam menentukan sebuah
kebenaran. Karena kebenaran sifatnya mutlak bersumber dari Al-qur’an dan
As-sunnah, sehingga mampu membedakan antara yang benar dan yang
salah (haq dan bathil). Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-qur’an :
“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada
(jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada
orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa
bagi mereka ada pahala yang besar, (Al-Isra’: 9)9

Moral dan Pola Pikir Sebagai Pondasi Sikap Dalam Sistem Tatanan
Sosial (Bernegara)
Indah jika kita memandang sebuah permasalahan dari akarnya. Melihat
sebuah realita sosial bukan dari produk akhir dan akibatnya, melainkan dari asal
muasal serta sebabnya. Inilah masalah fundamental yang tengah terjadi dalam
sistem tatanan sosial, termasuk dalam kehidupan Bernegara di Indonesia. Dua
persoalan fundamental terkait Islam dan Modernitas yang menjadi tantangan
masyarakat Indonesia saat ini adalah :
1. Paham modernitas yang telah menghegemoni moral dan pola pikir
masyarakat Indonesia
Perlu kita pahami dan sadari bahwa pola pikir/mindset adalah lapisan paling
pertama dalam sistem multifungsional tubuh manusia yang harus terbentuk secara
sadar untuk menghasilan perilaku dan mental. Hal inilah yang dilakukan oleh
Rasulullah SAW dalam memberantas budaya jahiliyah yang bercokol dalam mental
dan pola pikir manusia saat itu.10 Tantangan perubahan yang dihadapi bukan hanya
soal pertumbuhan ekonomi atau pendapatan penduduk yang dapat dirata-ratakan
dengan kalkulasi angka dan penerapan kebijakan. Namun tugas dan amanah besar
yang diemban adalah “memperbaiki pola pikir” masyarakat, mulai dari
kepercayaan pada Tuhan, hingga sistem tatanan sosial dan politik. Perubahan pola
pikir menjadi pondasi utama yang dibentuk oleh Rasulullah dalam membangun
kekuatan dan peradaban, dan disini tantangan terbesarnya. Tak heran jika berbagai
penolakan, cemoohan hingga ancaman pembunuhan menjadi santapan sehari-hari,
ketika Rasulullah memperjuangkan konsep Tauhidullah. Setelah pola pikir
masyarakat telah berubah dari jahiliyah menjadi Tauhidullah, maka mental
pemenang hanya akan menunggu waktu untuk diimplementasikan. Hal ini yang
menjadikan Rasulullah sukses menjadi orang yang paling berpengaruh di dunia,
bahkan Beliau dinobatkan sebagai orang nomor satu dalam buku 100 Orang Paling
Berpengaruh Di Dunia karya Michael Heart11
. Bahkan seorang penulis
berkebangsaan Perancis, Alphonse De Lamartine mengungkapkan betapa
berpengaruhnya Muhammad SAW sebagai berikut :

“Dengan memperhatikan semua standar ukuran kehebatan manusia,
kita bisa bertanya, apakah ada orang yang lebih hebat dari dia ?…. Dia
adalah filsuf, orator, rasul, legislator (penentu hukum), pemimpin tentara,
negosiator ulung, pembaharu, pemimpin agama, pendiri lebih dari 20
wilayah berasas Islam. Dialah Muhammad SAW.” (Alphonse De
Lamartine, Paris: 1854)12
Kualitas dari lulusan akademi Muhammad SAW dapat dijadikan bukti dari
pola dan konsep Islam sebagi pondasi pola pikir/mindset yang membentuk mental
para penerus risalahnya, seperti Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khatab, Usman
bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bi ‘Auf, Thalha bin Ubaidullah, Zubair
bin Awwam, Saad bin Abi Waqash, Abdullah bin Umar. Mereka adalah pemimpin
di masanya, yang kepemimpinannya diakui secara ideal secara global oleh belahan
bumi manapun. Sehingga pola pikir dan mental sebagai pondasi awal dalam
membangun menerapkan sebuah sistem pada kehidupan berbangsa dan bernegara
adalah sebuah kebenaran yang telah dibuktikan sejak berabad-abad silam, bahkan
oleh orang nomor satu di muka bumi ini. Dengan demikian, fakta yang terjadi saat
ini mengenai modernitas yang masuk dalam pola pikir dan mental masyarakat
Indonesia dalam kehidupan Bernegara hanyalah pola dan konsep dari realitas
sejarah yang berulang. Hal ini dapat dibuktikan ketika kebenaran mutlak dari Alqur’an
dan Sunnah tidak lagi menjadi landasan para pemimpin dalam mengambil
kebijakan di negerinya. Masyarakat, khususnya generasi muda saat ini menjadikan
sebuah trend berdasarkan realitas sosial yang terjadi di sekitarnya, bukan
berdasarkan nilai dan keseharusannya. Kesenangan terhadap budaya yang dibentuk
sendiri, serta menafsirkan kebenaran sebagai apa yang diyakini oleh pribadi yang
bersangkutan (individual), bukan kebenaran mutlak yang diajarkan Al-qur’an dan
As-Sunnah, merupakan ciri masyarakat yang hidup dalam zaman modernitas, dan
realitas masyarakat yang seperti inilah yang dihadapi Indonesia. Dapat kita
bayangkan jika kondisi masyarakat seperti ini tetap dipertahankan 5 hingga 10
tahun lagi, maka penulis yakin ketimpangan sosial dan kebobrokan motal akan
menjadi masalah utama yang melanda negeri ini.

2. Sikap Umat Islam Sebagai Masyarakat Dominan Di Indonesia.
Indonesia memang dinobatkan sebagai negara dengan mayoritas penduduk
muslim terbesar di dunia, namun hakikatnya penobatan tersebut bukanlah sebuah
prestasi apabila tidak diimbangin dengan bukti dan aplikasi. Nyatanya,
kedominanan tersebut hanya sekedar packaging yang terhitung secara numerik,
bukan kekuatan yang berhimpun sehingga membentuk oase peradaban yang
mampu membentuk sistem. Dari luar, jumlah penduduk Indonesia memang lebih
dari 70% adalah muslim, namun pola pikir dan mental yang terbentuk bukan
mencerminkan seorang muslim. Hal ini dapat dibuktikan melalui posisi Indonesia
pada peringkat 107 negara bersih dari korupsi atau urut ke-69 negara terkorup
menurut Transparency International.13 Sedangkan Islam adalah negara yang
menjunjung tinggi kejujuran dan amanah. Seorang pemimpin jelas memiliki
tanggungjawab dan amanah yang lebih dibandingkan rakyatnya, maka jika hal ini
masih terjadi di Indonesia, yang harus ditanyakan adalah dimana nilai dan konsep
Islam diterapkan ? Apa Islam hanya di Indonesia hanya sekedar nama ? Atau
manusianya yang mengaku sebagai pemeluk Islam, akan tetapi implementasi dan
pengamalannya nihil ?
Refleksi Islam dan Modernitas Pada Masyarakat Indonesia Dalam Kehidupan
Bernegara.
Pada dasarnya Islam dan modernitas bukanlah dua kubu yang
berseberangan dan tidak mungkin bersatu, sebagaimana yang digambarkan oleh
Samuel Huntington melalui Teori Clash of Civilization-nya. Jika tujuannya adalah
kemajuan dan kesejahteraan, maka Islam telah menawarkan konsep yang sangat
komperhensif dan aplikatif untuk diterapkan. Bahkan, ilmuwan ternama seperti Alkhawarizmi
dan Ibnu Sinna, adalah mereka yang paham dan menerapkan konsep
Islam dalam kehidupannya. Ini membuktikan bahwa Islam sangat mendukung
kemajuan dan perubahan kearah yang lebih baik, dalam hal apapun

Bagi penulis Islam adalah konsep kehidupan yang tidak bisa dibandingkan
dengan paham dan nilai yang diciptakan oleh manusia, dalam hal ini penulis
menyoroti paham modernitas yang kian mempengaruhi pola pikir generasi muda
bangsa Indonesia. Islam dan modernitas, keduanya memiliki sumber kebenaran
yang berbeda, metode penerapan yang berbeda, bahkan proses pengambilan
keputusan yang tidak sama. Namun dalam hubungannya dengan kehidupan
berbangsa dan bernegara, Islam bukanlah konsep yang kaku sebagaimana yang
diyakini oleh post-modernis. Islam bukan hanya sekedar agama yang
pengamalannya terlihat di masjid atau mushola. Namun Islam merupakan sebuah
ajaran dan konsep kehidupan yang mengaplikasiannya mencakup seluruh bidang.
Islam dapat mengikuti perkembangan zaman dan menyesuaikan dengan kebutuhan
sosial yang ada. Sehingga jika tujuan akhirnya adalah kesejahteraan masyarakat,
maka penulis meyakini bahwa konsep Islam adalah yang terbaik untuk diterapkan
di Indoensia. Kesalahan bukan pada konsep Islamnya, namuan pada manusia
sebagai aktor yang menjalankannya. Melalui tulisan ini penulis mengajak
masyarakat Indonesia, khsusunya generasi muda untuk kembali memahami secara
mendalam, menyeluruh (kaffah) dan komperhensif tentang konsep Islam yang
diajarkan Rasulullah dengan tetap mengikti realitas sosial yang ada dalam
penerapannya. Karena Islam adalah ajaran yang sangat aplikatif untuk diterapkan
kapanpun dan dimanapun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *