Browse By

Hari 2 : Islamic Worldview

Notulen ILA3

Ahad / 17 Januari 2016

 

Islamic
Worldview

( Ust. Adnin Armas )

 

 

Worddview / pandangan Hidup (pandangan alam):

Merupakan cara kita melihat/ memandang sesuatu
(suatu paradigma).

 

Perbedaan cara pandang Islam dengan dunia Barat:

  • Sebenarya bukan perbedaan yang menjadi
    persoalan, yang menjadi masalah adalah pertentangannya. Cara pandang
    seorang muslim dalam memandang kehidupan, memiliki sesuatu yang berbeda
    (keunikan tersendiri).
  • Pandangan Islam bersifat tetap, sementara
    pandangan Barat berubah-ubah.

 

Konsep “Pandangan” Barat Secara Umum:

Pandangan Barat memiliki 4 periode, yaitu :

  1. Zaman Yunani Kuno ( < tahun 600 ) Yang dominan pada masa itu adalah filsafat Yunani
  2. Zaman Pertengahan ( tahun 600 – 1600) Yang dominan Khatolik dan Protestan
  3. Zaman Modern (tahun 1500 – 1800) Yang dominan logika/ akal
  4. Zaman Kontemporer (abad ke 20 dst) diluar logika

 

  • Pandangan Barat memandang manusia
    berubah-ubah. Dulu Teosentris (Tuhan menjadi sumber) sedangkan sekarang
    atroposentris (manusia yang menjadi sumber). Dapat juga berubah lagi
    menjadi teoatroposentris, ataupun berubah-ubah lagi pandangannya. 
  • Worddview Islam tidak mengalami perubahan,
    kalaupun ada perubahan adalah perubahan pandangan dari pandangan Jahiliyah
    menjadi pandangan Syariat Islam.
  • Orang Islam dimana pun berada aturan-aturannya
    tetap sama dan berlaku universal. Misalnya, Shalat Subuh dimanapun
    negaranya sama-sama tetap 2 rakaat, shalat tetap menghadap Kiblat/ Kabah. Aturan-aturan
    Islam tidak lekang oleh waktu.

 

Pandangan Relativisme:

Paham yang menganut ketidakpastian/ tidak ada yang
mutlak. Baginya tidak ada kepastian. Satu-satunya yang pasti adalah
ketidakpastian itu sendiri. Misalnya, pandangan yang mengatakan bahwa “Saya
sendiri sendang ragu jika saya ragu”.

 

Ada 3 Argumentasi untuk menolak pandangan
relativisme tersebut, yaitu:

  1. Dengan mengatakan semua pendapat itu relative,
    maka artinya paham relativisme itu sendiri yang bertentangan dengan
    pandangannya. Dengan mengatakan bahwa “semua pendapat itu relative”
    mengapa paham relativisme sendiri menganggap pendapatnya itu merupakan
    pendapat mutlak.
  2. Dengan adanya pernyataan dari paham
    relativisme yang menyebutkan kalau “Yang kita tau sesungguhnya adalah yang
    tidak kita tahu” Tetapi sebenarnya jika ia dapat mengatakan hal tersebut,
    sesungguhnya ia sendiri sudah paham/ tahu. Jadi pendapat relativisme
    tersebut  sebenarnya bisa dipatahkan.
  3. Jika paham relativisme mengatakan “saya hidup”
    , maka dapat dipertanyakan lagi maksud/ makna dari kata “saya” “hidup” itu
    apa? Kata tersebut pun sebenarnya mereka ragukan akan pengertian/ makna
    setiap katanya.
  • Orang Islam tidak dapat hidup dengan pemikiran
    yang tidak jelas seperti itu. Islam memiliki kepastian yang tidak dapat
    berubah-ubah dari dahulu hingga sekarang, bahkan akhir zaman. Waktu dan
    ruang tidak mengubahnya, karena kepastian di Islam berasal dari wahyu.
  • Wahyu bukanlah budaya, karena budaya adalah
    buatan manusia. Sedangkan wahyu akan sesuai di segala zaman.
  • Contohnya: Bahasa Al-Quran adalah bahasa Arab.
    Maka, kitalah yang harus mempelajari Bahasa Arab tersebut. Bukan
    Al-Qurannya yang di translate mengikuti budaya bahasa kita (seperti
    membaca Al-Quran dengan lagom Jawa, ataupun misalnya Shalat dengan bahasa
    Indonesia).
  • Hal ini menunjukan bahwa Islam adalah agama
    wahyu, bukan agama budaya.

 

 

TANYA
JAWAB

 

SESI 1

Akhwat

Mba Rera : “Apakah pandangan-pandangan liberal yang
salah tersebut memiliki tiger dari seseorang, dari mana alasannya mereka berani
menentang nilai-nilai dari Allah yang sudah jelas-jelas kebenarannya?”

 

Ikhwan

Mas Veby:

Bagaimana pendapat Ustad mengenai fenomena saat ini
bahwa justru saat ini sesama muslim sering tejadi perbedaan pandangan?

 

 

Jawaban:

Disini lah pentingnya umat muslim untuk terus
mempelajari ilmu agama, termasuk mengikuti kajian-kajian seperti ini. Selektiflah
dalam mengikuti kajian dengan mencari kajian yang benar, jangan sampai masuk
dalam kajian-kajian yang sesat dan menyesatkan. Selain itu, kita juga harus memilih
pemimpin muslim yang benar. Karena pemimpin memiliki peran yang besar. Disini
penting sekali kita memperhatikan aqidah pemimpin kita, yaitu harus beraqidah
Islam. Sedangkan adanya fenomena-fenomena yang saling menyalahkan sesama umat
muslim harus disikapi dengan bijaksana. Bagi umat yang belum memiliki pemahaman
lebih, janganlah mudah menyalahkan umat yang lainnya yang bebeda pendapat
dengannya. Lihatlah siapa gurunya dan apa yang menjadi bacaannya.

 

 

SESI 2

Ikhwan:

Bagaimana cara kita sebagai seorang muslim untuk
meyakinkan para penganut paham relativisme, bahwa yang benar itu memang benar
dan yang salah memang salah?

Akhwat:

Selain mempelajari Al-Quran dan Hadits yang
bersifat tetap kebenarannya, kita juga perlu mempelajari Tafsir para ulama. Bagaimana
pendapat Ust. mengenai buku-buku tafsir berdasarkan kitab-kitab para ulama?

 

Jawaban:

·     
Orang-orang yang menganut paham relativisme tidak akan pernah
sadar akan kebenaran yang benar. Ada pendapat yang mengatakan bahwa jika kita
berargumentasi dengan media pembahasan/ dengan bahasa, maka mereka tidak akan
pernah bisa memahaminya. Mereka akan dapat mengerti kebenaran misalnya dengan
“dipukul”. Jika mereka merasa sakit, maka kita bisa mengatakan bahwa contoh
kebenarannya adalah bahwa efek jika dipukul ialah adanya rasa sakit. Paling
tidak mereka dapat mempunyai pandangan yang sama dengan kita.

·     
Mengenai tafsir para ulama, kita harus dapat memilih
tafsir-tafsir dari para ulama besar yang sudah terbukti kebenarannya. Misalnya
tafsir Buya Hamka. 

 

 

SESI 3

Ikhwan:

Bagaimana sebaiknya seorang muslim mempunyai
paradigma. Bagaimana pendapat Ustad mengenai Paradigma Tauhid?

 

Akhwat:

Bagaimana pendapat Ust. Tentang posisi akal dan
amal di dalam Islam? Saya pernah membaca bahwa Aisyah pernah bertanya kepada
Nabi dengan apakah manusia akan selamat, maka Nabi menjawab dengan akal.
Kemudian ditanya kembali bukankah dengan amal?

 

Jawaban:

·     
Pandangan Paradigmna seorang Muslim harus bersumber dari wahyu.
Mempelajari ilmu agama dengan benar merupakan dasar untuk menyaring apapun yang
akan kita jadikan sebagai paradigma.

·     
Kata “Akal” berasal dari Bahasa Arab yang artinya “Ikatan”. Kata
religion pun berasal dari Bahasa Latin, yang artinya pun “ikatan”. Arti dari
akal bukan berarti bebas lepas tanpa aturan. Akal adalah anugerah dari Allah.
Kita berislam karena akal. Kita terkena kewajiban beribadah karena kita
berakal. Jika akal hilang dari manusia, maka hilang pula tanggung jawab
beribadahnya. Umat Islam dalam menyimpulkan suatu hukum pun dengan akalnya.
Cara mengambil keputusan dalam memecahkan masalah ialah dengan akal. Dengan
demikian kedudukan akal di dalam Islam sangat penting peranannya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *