Browse By

Keindahan Hukum di Zaman Umar

Oleh : Salim A. Fillah

APII – Izinkan mericau tentang sebuah kisah
keagungan dan keindahan hukum. Agar
tetap terjaga harap dan sangka baik untuk
negeri ini. Umar sedang duduk beralas
surban di bebayang pohon kurma dekat
Masjid Nabawi. Sahabat di sekelilingnya
bersyura’ bahas aneka soal. Tiga orang
pemuda datang menghadap, dua
bersaudara berwajah marah yang mengapit
pemuda lusuh yang tertunduk dalam
belengguan mereka.

“Tegakkan keadilan untuk kami, hai Amirul
Mukminin,” ujar seorang. “Qishashlah
pembunuh ayah kami sebagai had atas
kejahatannya!”

Umar bangkit. “Bertakwalah kepada Allah,”
serunya pada semua. “Benarkah engkau
membunuh ayah mereka wahai anak
muda?” selidiknya.

Pemuda itu menunduk sesal. “Benat wahai
Amirul Mukminin!” jawabnya ksatria.
“Ceritaknlah pada kami kejadiannya!” tukas
Umar.

“Aku datang dari pedalaman yang jauh,
kaumku memercayakan berbagai urusan
muamalah untuk kuselesaikan di kota ini,”
ungkapnya. “Saat sampai,” lanjutnya,
“kutambatkan untaku di satu tunggul kurma
lalu kutinggalkan ia. Begitu kembali, aku
terkejut dan terpana. Tampak olehku
seorang lelaki tua sedang menyembelih
untaku di lahan kebunnya yang tampak
rusak terinjak tanamannya. Sungguh aku
sangat marah dan dengan murka kucabut
pedang hingga terbunuhlah si bapak itu.
Dialah rupanya ayah kedua saudaraku ini.”

“Wahai Amirul Mukminin,” ujar seorang
penggugat, “kau telah mendengar
pengakuannya dan kami bisa hadirkan
banyal saksi untuk itu.”

“Tegakkanlah had Allah atasnya!” timpal
yang lain. Umar galau dan bimbang setelah
mendengar lebih jauh kisah pemuda
terdakwa itu. “Sesungguhnya yang kalian
tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya,”
ujar Umar, “dia membunuh ayah kalian
karena lhilad kemarahan sesaat.”

“Izinkan aku,” ujar Umar, “meminta kalian
berdua untuk memaafkannya dan akulah
yang akan membayarkan diyat atas
kematian ayahmu.”

“Maaf Amirul Mukminin,” sergah kedua
pemuda dengan mata masih menyala
merah, sedih dan marah,”kami sangat
menyayangi ayah kami. Bahkan harta
sepenuh bumi dikumpulkan untuk kami, hati
kami hanya ridha jika jiwa dibalas dengan
jiwa!”

Umar yang tumbuh simpati pada terdakwa
yang dinilai amanah, jujur dan bertanggung
jawab tetap kehabisan akal yakinkan
penggugat.

“Wahai Amirul Mukminin,” ujar pemuda
tergugat dengan anggun dan gagah,
“tegakan hukum Allah, aku ridha pada
ketentuan Allah,” lanjutnya, “hanya saja
izinkan aku menunaikan semua amanah
dan kewajiban yang tertanggung ini.”

“Urusan muamalah kaumku, berilah aku 3
hari untuk selesaikan semua. Aku berjanji
dengan nama Allah yang menetapkan
qishash dalam AlQuran, aku akan kembali 3
hari dari sekarang untuk menyerahkan
jiwaku.”
“Mana bisa begitu!” teriak penggugat. “Nak,”
ujar Umar, “tak punyakah kau kerabat dan
kenalan yang bisa dilimpahi urusan ini?”

“Sayangnya tidak Amirul Mukminin.
Bagaimana pendapatmu jika kematianku
masih menanggung utang dan amanah
lain?”

“Baik,” sahut Umar, “kau memberi tangguh 3
hari tapi harus ada seseorang yang
menjaminmu bahwa kau menepati janji
untuk kembali.”

“Aku tidak memiliki seorang kerabat di sini.
Hanya Allah yang jadi penjaminku wahai
orang-orang yang beriman kepada-Nya,”
rajuknya.

“Harus ada orang yang menjaminnya!” ujar
penggugat, “andai pemuda ini ingkar janji,
siapa yang akan gantikan tempat untuk
diqishash?”

“Jadikan aku penjaminnya, hai Amirul
Mukminin!” sebuah suara berat dan
berwibawa menyerual dari arah hadirin. Itu
Salman Al-Farisi.

“Salman?” hardik Umar, “demi Allah engkau
belum mengenalnya! Jangan main-main
dengan urusan ini! Cabut kesediaanmu!”

“Pengenalanku kepadanya, tak beda dengan
pengenalanmu ya Umar,” ujar Salman, “aku
percaya kepadanya sebagaimana engkau
memercayainya.”

Dengan berat hati, Umar melepas pemuda
itu dan menerima penjaminan yang
dilakukan oleh Salman baginya. Tiga hari
berlalu. Detik-detik menjelang eksekusi
begitu menegangkan. Pemuda itu belum
muncul. Umar gelisah mondar mandir.
Penggugat mendecak kecewa. Semua
hadirin sangat mengkhawatirkan Salman.
Sahabat peranatau negeri, pengembara
iman itu mulia dan tercinta di hati Rasul dan
sahabatnya.
Mentari nyaria terbenam. Salman dengan
tenang dan tawakal melangkah siap ke
tempat qishash. Isak pilu tertahan. Tetapi
sesosok bayang berlari terengah dalam
temaram, terseok dan nyaris merangkak.
“Itu dia!” pekik Umar.

Pemuda itu dengan tubuh berkuah peluh
dan nafas putus-putus ambruk di pangkuan
Umar. “Maafkan aku,” ujarnya, “hampir
terlambat. Urusan kaumku memakan
banyak waktu. Kupacu tungganganku tanpa
henti hingga sekarat dan terpaksa kutinggal
lalu aku berlari.”

“Demi Allah,” ujar Umar sambil
menenangkan dan meminumi,”bukankah
engkau bisa lari dari hukuman ini? Mengapa
susah payah kembali?”

“Supaya jangan sampai ada yang
mengatakan,” ujar terdakwa dalam senyum,
“di kalangan Muslimin tak ada lagi ksatria
tepat janji.”

“Lalu kau, hai Salman,” ujar Umar berkaca-kaca, “mengapa mau jadi penjamin
seseorang yang tak kaukenal sama sekali!”

“Agar jangan sampai dikatakan,” jawab
Salman teguh, “di kalangan Muslimin tak
ada lagi saling percaya dan menanggung
beban saudara.”

“Allahu Akbar!” pekik dua pemuda
penggugat sambil memeluk terdakwanya,
“Allah dan kaum Muslimin jadi saksi bahwa
kami memaafkannya.”

“Kalian memaafkannya?” Umar makin haru,
“jadi dia tidak diqishash? Allahu Akbar!
Mengapa?”

“Agar jangan ada yang merasa,” sahut
keduanya masih terisak, “di kalangan kaum
Muslimin tak ada lagi kemaafan dan kasih
sayang.”

Demikian Shalihin Shalihat, kisah kasus
hukum di zaman Umar. Semoga ada hikmah
yang bisa terteladani.

Menyimak Kicau Merajut Makna
Salim a fillah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *