Browse By

KERANCUAN NALAR PLURALISME AGAMA

Oleh, Jemmy Ibnu Suardi
Hubungan antar umat beragama selalu menjadi sorotan utama dalam kehidupan bermasyarakat, setiap dinamika keberagamaan akan memberikan pengaruh yang dampaknya dapat mengguncang keseimbangan sosiologis kemasyarakatan, banyak kasus pertikaian antar umat beragama dimana “agama” selalu dijadikan alasan dari problemetika yang muncul, dari permasalahan ini timbullah sebuah gagasan untuk memberikan solusi atas pertikaian antar agama, sehingga dibangunlah dialog antar agama guna mencari kesamaan dan kesetaraan dari agama-agama agar timbul rasa pengertian, banyak cendikiawan dan para akademisi mencari solusi atas fenomena sosiologis keagamaan tersebut yakni permasalahan agama-agama, sehingga dimunculkanlah wacana pluralisme agama yang tujuannya agar terjadi dialog antar agama sehingga terbangunlah rasa saling pengertian antar agama, dimana tujuannya adalah agar setiap agama-agama dapat menerima perbedaan satu sama lainnya dan saling menghargai perbedaan yang ada tersebut, dengan kata lain pluralisme agama merupakan sebuah toleransi antar umat beragama, namun benarkah pluralisme agama itu dapat menjadi solusi atau justru menjadi masalah itu sendiri?

Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 2005 yang mengharamkan paham Pluralisme Agama, melahirkan kontroversi khususnya bagi kalangan pluralis-liberal yang mengusung isu pluralisme agama. Sebenarnya, paham Pluralisme Agama lahir dari doktrin Pluralisme Barat, sebagaimana halnya diketahui bahwa sebuah wacana atau konsep tidaklah keluar secara “ujug-ujug”, konsep pluralisme tidaklah bebas nilai (free value) tetapi justru sebaliknya –sarat nilai (value laden), karena konsep tersebut lahir (by product) dari worldview satu bangsa, agama, atau peradaban, dengan kata lain, sebuah konsep sosial apabila dilihat dari prinsip-prinsip epistemologinya menunjukan muatan nilai yang bersumber dari worldview suatu bangsa, agama dan peradaban.

Pluralisme berakar dari paham nihilisme, relativisme dan postmodernisme (Lihat Dr. Hamid Fahmi Zarkasy, Misykat, 2012), Gus Hamid yang merupakan anak dari K.H Imam Zarkasy pendiri Ponpes Gontor ini menjelaskan, Pertama, pluralisme berarti Toleransi, dimana masing-masing agama, ras, suku dan kepercayaan berpegang pada prinsip masing-masing dan menghormati prinsip dan kepercayaan orang lain. Kedua, pluralisme berarti sudah tidak berpegang pada suatu dasar apapun. Masyarakat harus menerima kenyataan bahwa disana tidak ada kebenaran tunggal artinya semua benar, atau masyarakat tidak boleh memiliki keyakinan bahwa agama dan kepercayaan mereka ini benar atau paling benar. Bahkan, dalam satu pengertian pluralisme mengajarkan bahwa sebenarnya kebenaran itu tidak ada.

Gus Hamid memaparkan, Musuh utama dari pluralisme adalah fundamentalisme, dan doktrin utamanya adalah nihilisme dan relativisme, yang sasaran utamanya adalah agama dan kepercayaan. Diantara tokoh pengusungnya adalah Peter Ludwig Berger, seorang sosiolog Amerika dan juga Teolog Lutheran.

Dalam bukunya “The Desecularization of the World”, Berger mengatakan bahwa sekularisasi telah gagal, sebab praktik keagamaan ternyata justru bertambah subur dan desekularisasi malah dominan. Oleh sebab itu ia mengusulkan gantinya yaitu paham pluralisme.

Pluralisme dihidupkan, disebarkan dan diperkuat oleh Globalisasi Demokrasi Liberal, didalam masyarakat demokrasi liberal, kebebasan beragama dan bahkan bebas untuk tidak beragama (atheis) merupakan sebuah tren sosiologis yang dilindungi, agama tidak bisa lagi menjadikan negara sebagai sandaran, sejalan dengan kapitalisme otoritas seperti pasar, siapa saja bebas memiliki otoritas, bahkan masyarakat akan lebih kuat menganut doktrin pluralisme daripada menganut Agama.

Gus Hamid memaparkan tokoh lain, Diana L Eck yang dalam bukunya “The Challenge of Pluralism”, Diana tegas-tegas menyatakan bahwa Pluralisme bukan sekedar toleransi antar umat beragama, tidak pula sekedar menerima pluralitas (diversity), dalam bukunya yang lain “From Diversity to Pluralisme”, Diana “membayangkan” bahwa Pluralisme adalah peleburan agama-agama menjadi satu wajah baru yaitu realitas keagamaan yang plural.

Pada pemikiran Diana ini, nampak sekali muatan relativisme. Sebab ia juga menyarankan agar agama-agama bersedia membuka diri dan menerima kebenaran pada agama lain. Alasannya karena setiap agama mengandung porsi kebenaran. Dan berpendapat bahwa semua agama itu sama benarnya dan tidak ada agama yang lebih benar dari agama lain.

Paham Pluralisme agama terdiri dari dua aliran besar: pertama, Teology Global (global theology) atau Teologi Dunia (world theology) yang dipelopori oleh John Hick dan Wilferd Cantwell Smith, dan Kedua, kesatuan Transenden agama-agama (transendent unity of religions) oleh Fritjhof Schuon. Aliran pertama berambisi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi proyek globalisasi Barat.

Pendekatan yang dipakai aliran teologi global terhadap agama-agama awalnya bersifat sosiologis, kultural dan ideologis. Bersifat sosiologis dan kultural karena agama-agama yang ada di dunia ini harus disesuaikan dengan kondisi budaya masyarakat modern yang plural. Ideologis karena ia telah menjadi bagian dari program gerakan globalisasi yang jelas-jelas memasarkan ideologi barat. Akibatnya, menurut Malcolm Walter globalisasi yang datang bersama dengan kapitalisme ini malah membawa kekuatan baru yang menghapus otoritas agama, politik, militer dan sumber kekuatan lainnya.

Fakta yang tak terbantahkan adalah gerakan globalisasi ini telah membawa ideologi baru yang bertujuan agar semua menjadi terbuka dan bebas menerima ideologi dan nilai-nilai kebudayaan Barat (baik dengan terpaksa atau dipaksakan) seperti demokrasi, HAM, Feminisme/Gender, Liberalisme, dan sekularisme. Jadi globalisasi Barat itu seakan-akan berdiri didepan semua agama dan memberi instruksinya “ikut globalisasi barat atau tertinggal dan tertinggal”. Posisi seperti inilah yang disampaikan Peter Berger, semua penganut agama, katanya, hanya memiliki tiga pilihan : pertama, menolak pluralisme. Kedua, menarik diri daripadanya, dan ketiga, terlibat dengannya.

Pendiri INSISTS ini menambahkan, Setelah menggunakan pendekatan sosiologis, kultural, dan ideologis, aliran ini menggunakan pendekatan filosofis, terutama doktrin Relativisme. Doktrin relativisme kebenaran digunaan untuk melebur batas-batas agama sehingga tidak ada lagi yang mengklaim paling benar (truth claim). John Hick menyatakan, bahwa kebenaran itu relatif yang absolut hanya Tuhan dan manusia tidak pernah mampu memahami Tuhan. Apa yang dipahami manusia mengenai Tuhan hanyalah bersifat relatif. Selain itu Hick juga mengadopsi teori Copernican Revolution yaitu yang merevolusi prinsip Geosentris menjadi Heliosentris. Jika Copernicus memindahkan pusat gravitasi dari bumi kepada matahari maka Hick memindahkan pusat gravitasi teologi dari agama-agama kepada Tuhan (religion-centredness to God-centredness). Kalau dulu setiap agama menjadi pusat yang dikelilingi Tuhan, maka kini dirubah Tuhanlah yang dikelilingi agama-agama, atau dengan kata lain dari banyak Agama banyak Tuhan menjadi banyak Agama satu Tuhan.

Sedangkan Fritjhof Schuon menebarkan ide bahwa agama dibagi menjadi dua: tingkat Eksoterik (Lahiriyah) dan Esoterik (Batiniyah). Pada tingkat Eksoterik agama-agama mempunyai Tuhan, teologi, ajaran yang berbeda. Namun pada tingkat Esoterik agama-agama itu menyatu dan memiliki tuhan yang sama yang abstrak dan tidak terbatas, sehingga dapat disimpulkan Pluralisme agama bukan prinsip mengenai toleransi, tapi relativisme kebenaran yang mengajarkan “semua agama adalah sama”.

Doktrin Pluralisme agama ini kini disebarkan kedalam wacana pemikiran Islam, para Cendikiawan Muslim yang mengadopsi paham ini setidaknya ada tiga kelompok. Pertama, mereka yang memahami doktrin dan mempunyai agenda tersendiri. Kedua, mereka yang memahami doktrin ini karena pemikirannya terbaratkan. Ketiga, mereka yang tidak memahami doktrin ini dan terbawa oleh wacana umum. Dari kelompok pertama dan kedua inilah muncul istilah-istilah asing seperti Islam Inklusif, Islam Pluralis, Pluralisme dalam Islam dan sebagainya. Selain itu mereka juga mencari-cari justifikasi (pembenaran) dari al-Quran dan Hadist. Cara yang mereka gunakan adalah dengan mendekonstruksi makna ayat dan hadist untuk disesuaikan dengan tujuan mereka.

Dr. Anis Malik Thoha dalam bukunya “Tren Pluralisme Agama” mengatakan bahwa dampak dari relativisme adalah kerancuan berpikir dimana tidak ada lagi standar moral, baik dan buruk, benar dan salah sehingga yang muncul adalah kekacauan sosial karena setiap orang boleh melakukan apapun yang dia suka sehingga terjadilah kekacauan dalam tatanan sosial kemasyarakatan. Semua agama di anggap sama, “alih-alih menjadi solusi, justru paham Pluralisme Agama menjadi masalah itu sendiri” karena kekacauan epistemologis yang dimiliknya.

Pluralisme agama telah mereduksi nilai-nilai agama, bagaimana mungkin orang yang beriman sama dengan yang kafir/ Musyrik?, bagaimana mungkin agama tauhid disamakan dengan agama musyrik? Gus Hamid menuturkan, boleh jadi, demi pluralisme agama di satu saat nanti akan membuat seorang Kiyai dibaptis menjelang ajalnya dan seorang pendeta setelah dikubur boleh ditalqin, agar di alam sana bisa memilih surga alternatif yang menurut mereka sangat Plural itu. Atau akan ada seorang kiyai yang menyatakan “Yesus Tuhan kita juga” karena menganggap semua Agama adalah sama. Sebagaimana Buya Hamka menyatakan, “orang yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama, sebenarnya dia sendiri tidak beragama”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *