Browse By

Profil Calon Anggota Legislatif

Di era demokrasi ini, suara rakyat adalah komponen yang sangat penting. Sampai ada yang mengatakan, suara rakyat adalah suara Tuhan. Mengapa? Ya, karena, suara rakyat itulah yang menentukan jadi tidaknya seorang wakil rakyat duduk di Dewan Perwakilan Rakyat. Semakin banyak suara yang ia terima, semakin besar peluangnya menjadi wakil rakyat yang kekuasaannya sangat besar menentukan ini-itu kehidupan berbangsa-bernegara.

Namun ironisnya, masih banyak rakyat yang belum mengetahui suara mereka kelak diwakili oleh siapa di parlemen. Selain itu, masalah politik uang (money politic) dan kampanye kotor (black campaign) seperti menjadi menu wajib dalam Pemilu.

Untuk itu, Majalah Gontor merasa terdorong untuk setidaknya memberikan gambaran tentang beberapa nama tokoh yang bisa dijadikan rujukan untuk mencari calon anggota legislatif (Caleg)  yang memiliki komitmen tinggi terhadap umat, bangsa, dan negara. Berikut beberapa nama caleg yang dalam kampanyenya berkomitmen terhadap umat dan bangsa.

 

Husnan Bey Fananie

Caleg PPP Dapil Jawa Barat III

 

Cucu salah satu Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Zainuddin Fananie, ini memulai karier politiknya dengan jargon fi ayyi ardhin tatha’ wa anta mas ulun ‘an islamiha (di setiap bumi yang engkau pijak, di situlah engkau bertanggung jawab atas keislamannya).

Menurut Husnan Bey, calon anggota legislatif yang layak pilih adalah mereka yang mampu memberdayakan umat, tegas membela kepentingan umat, hingga mengedepankan kemaslahatan umat sebagai salah satu barometer perjuangannya. Masih banyak persoalan umat yang harus diselesaikan. Di sisi lain, kaum liberal dan sekuler mengintai kesempatan untuk memasukkan ideologinya dalam sistem perundang-undangan Indonesia.

Caleg Dapil Jawa Barat III ini berkomitmen, jika terpilih sebagai anggota parlemen periode 2014-2019 mendatang, ia akan menentang kepentingan-kepentingan kaum liberal-sekuler. Ia juga juga menolak masuknya perkawinan sejenis dalam revisi UU Perkawinan.

 

Dr Muhammad Hidayat Nur Wahid MA

Caleg PKS Dapil DKI Jakarta II

 

Pria kelahiran Klaten, 8 April 1960, ini adalah mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI). Ia menggantikan Amien Rais dan kemudian digantikan oleh Taufik Kiemas. Pada tahun 2012, Hidayat yang diusung Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan Didik J Rachbini dari Partai Amanat Nasional.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dikenal sebagai partai kader. Karena itu, partai Islam ini tidak akan mengajak para artis atau tokoh agama sekalipun untuk maju menjadi calon anggota legislatif pada tahun 2014 ini. PKS tak mau menggaet para kiai dan ustadz karena tidak ingin mengganggu tokoh agama tersebut dalam menjalankan tugasnya membimbing masyarakat. “Biarlah mereka membimbing masyarakat sesuai dengan profesi mereka. Kami akan memperjuangkan apa yang disampaikan para ustadz itu di DPR. Kami juga tidak mengontak para artis secara khusus,” akunya.

Dengan ilmu yang didapat serta pengalaman yang diaplikasikannya lewat kinerja di partai, Hidayat pernah diangkat menjadi Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS),  21 Mei 2000 – 11 Oktober 2004. Pada tahun 2014 ini, alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor, itu kembali mencalonkan diri sebagai anggota legislatif.

Hidayat yang berhasil meraih gelar doktor di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, Jurusan Aqidah Fakultas Dakwah dan Ushuludin, tahun 1992, ini mengusung tiga misi mulia. Pertama,  memelopori reformasi sistem politik, pemerintahan dan birokrasi, peradilan, dan militer untuk berkomitmen terhadap penguatan demokrasi. Mendorong penyelenggaraan sistem ketatanegaraan yang sesuai dengan fungsi dan wewenang setiap lembaga agar terjadi proses saling mengawasi.

Kedua, mengentaskan kemiskinan, mengurangi pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat melalui strategi pemerataan pendapatan, pertumbuhan bernilai tambah tinggi, dan pembangunan berkelanjutan, yang dilaksanakan melalui langkah-langkah utama berupa pelipatgandaan produktivitas sektor pertanian, kehutanan, perikanan, kelautan, dan sebagainya.

Ketiga, menuju pendidikan yang berkeadilan dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh rakyat Indonesia. Membangun sistem pendidikan nasional yang terpadu, komprehensif dan bermutu untuk menumbuhkan SDM yang berdaya saing tinggi serta guru yang profesional dan sejahtera.

 

Linda Utami Zandrastuty Bustan Mahendradatta

Caleg Partai Gerindra Dapil Jawa Tengah V

 

Perempuan kelahiran Jakarta, 31 Agustus 1962, ini menyadari, tak mudah untuk bisa menjadi anggota DPR RI. Apalagi banyak yang bilang, Dapil Jawa Tengah V itu “Dapil neraka”. “Saya yakin, dengan ikhtiar semaksimal mungkin pasti akan maksimal, meski hasil akhirnya ditentukan Allah,” ujarnya kepada Majalah Gontor.

Dapil V meliputi Klaten, Boyolali, Sukoharjo, dan Kota Surakarta. Kalau terpilih, Linda optimis bisa menjadi wakil rakyat yang amanah. Ia bahkan menegaskan kalau dirinya tidak akan seperti kebanyakan politikus di negeri ini. Untuk menjalankan peran sebagai wakil rakyat, ia telah menyiapkan diri melaksanakan tugas utamanya membuat UU.

Menurutnya, UU harus lebih berpihak kepada rakyat, bukan hanya kepentingan kelompok atau partai tertentu. Yang lebih utama, UU itu harus berkiblat pada al-Qur’an dan Hadis, karena tak bisa dipungkiri, Indonesia adalah pemeluk agama Islam yang terbesar di dunia. Bersama Partai Gerindra yang nasionalis dan tegas berpihak kepada rakyat, Linda akan turut memperjuangkan aspirasi rakyat menuju perubahan bangsa yang lebih bermartabat.

 

Dini Mentari SSi MSi

Caleg PPP Dapil Jawa Barat II

 

Mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Masjid Salman ITB ini telah mantap mencalonkan diri sebagai Caleg PPP dari Dapil Jawa Barat yang meliputi Kabupaten Bandung dan Bandung Barat.

Perempuan 42 tahun yang akrab dipanggil Teh Dini ini bertekad memperjuangkan proses pengambilan kebijakan dan pembahasan anggaran di DPR menjadi lebih transparan, melibatkan banyak pihak dan akuntabel, serta mendorong aktor-aktor yang kompeten dan amanah agar ada dalam struktur kepemimpinan.

“Saya juga ingin memperjuangkan adanya keterwakilan perempuan dan kaum muda di dunia politik, khususnya di parlemen, agar kepentingan kelompok perempuan terwakili. Membangun engagement antara kelompok perempuan dan kaum muda yang ada di dalam pemerintahan dan di luar pemerintahan,” ujarnya kepada Majalah Gontor.

 

Dr H Munawar Fuad Noeh MA

Caleg Partai Demokrat Dapil Jawa Barat VII

 

Pria yang akrab disapa “Kang Fuad” ini dikenal cukup dekat dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang ia kenal sejak 18 tahun silam. Dunia birokrasi dan politik pun tidak asing lagi bagi pria kelahiran Bekasi, 16 Mei 1970, ini.

Ia pernah menjadi Ketua DPP GP Anshor (2000-2005), Staf Khusus Kandidat Presiden (2004), Kandidat Bupati Partai Demokrat dan PKB (2007) dan Wakil Ketua Bidang Politik dan Hankam DPD Partai Demokrat (2005-2010). Lalu sekarang ini, doktor sejarah dan sains jebolan Universitas Malaya Malaysia yang pernah mengenyam pendidikan di Pesantren Tebu Ireng, Jombang, ini dipercaya maju sebagai Caleg DPR RI periode 2014-2019 dari Partai Demokrat Dapil Jawa Barat VII yang meliputi Bekasi, Karawang, dan Purwakarta.

Kang Fuad maju dengan niat mulia, ingin menguatkan kedaulatan rakyat dalam pengambilan keputusan sehingga dapat tersalurkan dalam kebijakan konkret berbangsa dan bernegara. “Apa yang menjadi cita-cita luhur kemerdekaan belum selesai dan belum tuntas. Karena itu, secara khusus saya ingin soroti bagaimana negeri ini benar-benar merdeka, memiliki kemandirian, daya saing tinggi, serta memiliki kehormatan harkat dan martabat bangsa disandingkan dengan negara lain,” tuturnya kepada Majalah Gontor.

 

Yusuf Supendi

Caleg Partai Hanura Dapil Jawa Barat V

 

Sebelum dikenal sebagai politisi Partai Hanura, Yusuf Supendi dikenal sebagai salah satu pendiri Partai Keadilan yang kemudian bertransformasi menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Menurut laki-laki berusia 55 tahun ini, hijrah dari partai yang didirikannya tersebut tidak lantas membuat kehilangan basis suaranya. “Pak Wiranto meminta saya untuk berusaha mendapatkan 3 kursi di DPR-RI,” ujarnya.

Menurut Yusuf, metode yang digunakan dalam kampanyenya adalah blusukan ke basis-basis suara yang tersebar di Dapil Jawa Barat V. Tidak jarang Yusuf menemui beberapa hal menarik, seperti bertemu saudara-saudara jauhnya bahkan jamaah masjid yang sebetulnya belum pernah dia kenal, tapi justru sangat mengenalnya dengan baik.

Ada dua pantangan yang ia lakukan dengan dalam berkampanye. Pertama, ia tidak akan mengatakan, “Coblos saya!” Kedua, tidak pernah berjanji kepada konstituen. Menurutnya, masyarakat hanya butuh informasi.“Banyak program-program pemerintah yang produktif, tapi karena minimnya informasi yang mereka terima, program-program serta bantuan-bantuan dari pemerintah urung tersosialisasi dengan baik,” ujarnya.

 

 

Drs Abdul Djalil

Caleg Partai Kebangkitan Bangsa Dapil Jawa Barat II

 

Usianya tak muda lagi, tapi semangatnya untuk mewujudkan Indonesia yang lebih maju, adil, makmur dan sejahtera tidak pernah berhenti. Pria kelahiran Jombang, 6 September 1953,  yang pernah mengenyam pendidikan di Pesantren Tebu Ireng, Jombang, ini mantap menempuh jalur politik untuk mewujudkan cita-cita dengan mencalonkan diri sebagai Caleg PKB dari Dapil Jawa Barat II yang meliputi Kabupaten Bandung dan Bandung Barat.

Mantan peserta pendidikan Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) KRA- 38 ini bertekad untuk memperjuangkan aspirasi rakyat menuju peningkatan bidang pendidikan, ekonomi, kesejahteraan, kesehatan dan keamanan. “Saya tak masalah naik-turun gunung untuk mengetahui aspirasi rakyat Bandung, khususnya masyarakat yang selama ini kurang diperhatikan,” ujar Wakil Ketua Bidang Luar Negeri DPP Ittihadul Mubalighin ini.

Mantan aktivis pergerakan mahasiswa Islam ini memilih jalur politik bukan semata-mata demi jabatan.  Baginya, seorang Muslim harus ikut andil dalam mengurus negara sehingga apa yang menjadi cita-cita kemerdekaan bisa terwujud. “Partai politik adalah pintu masuk untuk mengurus negara agar lebih maju, rakyat sehat dan bangsa selamat,” tuturnya.

 

Ali Mochtar Ngabalin

Caleg Partai Golkar Dapil Sulawesi Selatan III

 

Pria Kelahiran Fak-Fak, Papua, 45 tahun silam ini adalah seorang dai. Bersama kawan-kawannya di Komisi III DPR-RI (2004-2009), ia melahirkan gagasan tentang UU Pembuktian Terbalik bagi para pejabat, baik di pusat maupun di daerah, sembari mengurangi tindak pidana korupsi di lingkungannya.

Gayanya yang meledak-ledak dalam menyampaikan pendapat menjadi ciri khas mantan kader Partai Bulan Bintang tersebut. Namun demikian, komitmennya untuk berbuat yang terbaik bagi umat Islam tidak perlu diragukan lagi.

Baginya, penilaian dari manusia tidak ada artinya apabila tidak diikuti dengan penilaian oleh Allah SWT dan orang-orang beriman yang telah memilihnya atau mereka yang telah memperjuangkan laki-laki bersorban itu untuk bisa duduk di kursi parlemen. Ngabalin menganggap, anggota parlemen merupakan upaya untuk mengabdi kepada rakyat dan mengakomodasi aspirasi rakyat untuk kepentingan bangsa dan negara.

 

Lukman Hakim Saifuddin

Caleg PPP Dapil Jawa Tengah VI

 

Pria kelahiran Jakarta, 25 November 1962, ini adalah Wakil Ketua MPR RI periode 2009–2014, yang kembali mencalonkan diri sebagai anggota legislatif pada pemilu 2014. Lukman, begitu sapaan akrabnya, pernah mengenyam bangku studi di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, pada tahun 1983. Cerdas, bertanggung jawab, dan visioner, kata-kata itulah yang cocok disandingkan pada sosok muda tersebut.

Anggota Komisi III DPR RI yang membidangi hukum, ini lulusan sarjana (S1) Universitas Islam As-Syafi’iyah, Jakarta, tahun 1990.  Ia telah lama mengabdikan dirinya di dunia politik dan bergabung dengan Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Sejak awal terjun di dunia politik, tujuan utamanya ingin memperbaiki citra partai politik. “Saya khawatir kalau sampai masyarakat secara umum menganggap partai politik itu tidak perlu lagi. Itu dapat membunuh demokrasi. Karena tidak ada demokrasi tanpa partai politik. Karena partai politik itu lembaga formal yang berfungsi menyalurkan demokrasi,” tegas Lukman.

Lukman sebagai bagian dari Fraksi PPP telah memantapkan diri untuk tetap berpegang teguh pada visi misi yang selama ini menjadi panduan mereka berkiprah di dunia politik. “Untuk bisa berbenah, partai politik membutuhkan orang-orang yang memiliki idealisme yang cukup. Jangan hanya diisi orang-orang yang pragmatis, berpikir hanya untuk sesaat dan hanya untuk kepentingannya sendiri,” ungkap Koordinator Program Pendidikan dan Pelatihan (Lapesdam) NU tahun 1994-1995.
“Bagi saya, tugas yang kita emban sebagai anggota DPR RI sangat mendasar, yaitu membuat peraturan perundang-undangan yang diharapkan mampu memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi masyarakat,” papar Lukman.

 

Mahfudz Abdurrahman

Caleg PKS Dapil Jawa Barat VI

 

Mahfudz Abdurrahman dicalonkan kembali menjadi Caleg DPR-RI untuk keempat kalinya secara berturut-turut. Baginya, keputusan partai merupakan amanah yang harus diemban. Kali ini, ia menjadi Caleg PKS dari Dapil Jawa Barat VI yang meliputi Kota Bekasi dan Depok.

Kesempatannya untuk menjadi anggota parlemen periode 2014-2019 atau periode keempat dalam karier politiknya, tidak serta-merta membuat salah satu pendiri Iqra Islamic Centre, Pondok Gede ini kehilangan semangat membangun bangsa dan negara.

Visi misi yang ingin dibawa oleh pria 54 tahun ini memperjuangkan aspirasi umat Islam, mencerdaskan dan memberdayakan rakyat melalui program sosialisasi, edukasi, dan kegiatan-kegiatan pemberdayaan yang nyata serta melakukan advokasi atas persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat terkait dengan peran dan fungsi DPR-RI.

“Para pemilih harus memilih calon dengan pilihan yang jelas berbasis pada logika akal sehat yang cerdas, bukan asal pilih, apalagi pragmatis yang berbasis money politic,” tambahnya kepada Majalah Gontor.

 

KH Muhammad Al-Khaththath

Caleg PBB Dapil DKI Jakarta III

 

Ir Muhammad Gatot Saptono atau lebih dikenal dengan nama KH Muhammad al-Khaththath (MAK), pada pemilu 2014 ini menjadi Caleg PBB Dapil DKI Jakarta III yang meliputi Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Kepulauan Seribu. Menurutnya, PBB adalah partai Islam yang serius memperjuangkan tegaknya syariah Islam di Indonesia secara formal-konstitusional.

Untuk itu, Ustadz MAK maju dengan visinya menjadi wakil rakyat yang memperjuangkan syariah dan kepentingan umat Islam: memperjuangkan UU Syariah dan mengamandemen UU yang bertentangan dengan syariah dan merugikan umat Islam, memperjuangkan APBN yang berpihak kepada penguatan syariah dan kepentingan umat Islam, serta mengontrol kebijakan penguasa agar senantiasa berpihak kepada syariah dan umat Islam.

Salah satu mantan pimpinan Hizbut Tahrir Indonesia ini juga aktif dalam aksi perlawanan pemikiran liberal, pelecehan dan penistaan agama Islam. “Perjuangan memerlukan seluruh medan, baik di dalam gedung DPR maupun di luar. Keduanya sama saja. Yang penting kita memperjuangkan syariah Islam tegak di NKRI,” ujarnya.

 

Zainun Ahmadi

Caleg PDI-P Dapil Jawa Timur X

 

Keterlibatan Zainun Ahmadi di PDI-P berawal dari permintaan almarhum H Taufik Kiemas, yakni untuk mewarnai dan membenahi keadaan di PDI-P. Tak heran, jika saat ini ia juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Baitul Muslimin dan dicalonkan oleh PDI-P sebagai Caleg Dapil Jawa Timur X periode 2014-2019.

Soal visi misinya, Zainun mengikuti program prorakyat yang diusung partainya. “PDI-P tidak berkoalisi dengan partai pemenang yang cenderung neoliberal seperti sekarang ini. Misalnya, keputusan kenaikan BBM beberapa waktu lalu, Fraksi PDI-P merupakan salah satu yang menentang kebijakan kenaikan itu,” tandas Zainun yang juga alumnus Pondok Modern Gontor ini.

Menurut Zainun, politik uang merupakan masalah kronis bangsa Indonesia. Untuk itu, ia mengingatkan rakyat agar menghindari Caleg yang melakukan politik uang, dan menghimbau agar memilih Caleg yang dikenal memiliki integritas dan kapabilitas.

 

Dr Ali Taher Parasong

Caleg PAN Dapil Tangerang Raya

 

Dr Ali Taher Parasong maju sebagai Caleg PAN Dapil Tangerang Raya dengan program keumatan, yakni fokus memperhatikan dunia pendidikan dan kesehatan. “Jika diberi kesempatan untuk menjadi anggota Dewan, saya akan memperjuangkan pendidikan, kesehatan, dan perbaikan infrastruktur,” ujarnya saat ditemui Majalah Gontor.

Selain itu, ia juga akan memperhatikan nasib pesantren tradisional agar bisa diakui seperti sekolah formal. “Banyak pesantren yang ijazahnya belum diakui, sayang sekali kalau santri tidak melanjutkan ke jenjang lebih tinggi lantaran tidak memiliki ijazah untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi,” katanya.

Selama ini, mantan aktivis Ikatan Pemuda Muhammadiyah 1989 ini telah mempersiapkan lima hal pokok. Pertama, mempertajam visi-misi perjuangan. Kedua, membangun jaringan sampai ke desa-desa lewat partai maupun relawan. Ketiga, membangun kepercayaan masyarakat.Keempat, memelihara apa yang diucapkan untuk seia sekata. Kelima, kesiapan dan disiplin.

Soal kalah atau menang dalam perspektif spiritualisme, Allah yang menentukan. Sesuatu yang baik harus dilakukan dengan cara yang baik, maka hasilnya pun akan baik. Begitu pula dalam berpolitik. “Tujuan kita harus ikhlas untuk membangun umat, membangun bangsa-negara, dan betul-betul bekerja keras. Motto saya, bekerja untuk rakyat dengan sungguh-sungguh supaya terjadi percepatan peningkatan kesejahteraan,” pungkasnya.

 

dikutip dari: http://www.majalahgontor.net/index.php?option=com_content&view=article&id=711%3Aprofil-calon-anggota-legislatif&catid=40%3Alaporan&Itemid=103

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *