Browse By

Reuni 212, Merajut Ukhuwah Islamiyah Muslim Indonesia

Oleh Jemmy Ibnu Suardi (Researcher Pusat Kajian Yilead-AQL)

Islam adalah agama dakwah yang diwahyukan kepada manusia melalui utusan-Nya, Rasulullah Muhammad saw. Sebagai seorang rasul utusan Tuhan kepada seluruh manusia, wajib bagi dirinya untuk menyiarkan kebenaran Islam kepada seluruh manusia. (Mohammad Natsir, Fiqhud Da’wah, Jakarta: Media Dakwah, 2000).

Fethullah Gulen menulis, tugas utama seorang nabi dan rasul adalah mengajak manusia pada kebenaran Islam, dimana kewajiban dakwah ini berlaku bagi laki-laki dan perempuan, kaum muslimin dan muslimat. (Fethullah Gulen, Dakwah, Jalan Terbaik dalam Berpikir dan Menyikapi Hidup, Jakarta: Republika 2011)

Secara historis, pada masa sebelum Islam, setidaknya telah ada beberapa peradaban besar yang mendominasi dunia, mereka saling bersaing satu sama lain, diantaranya peradaban Romawi dan Persia, serta peradaban Tiongkok dan Hindustan dan juga Melayu pra Islam. Dari peradaban-peradaban ini pun terdapat agama-agama dan kepercayaan yang sudah ada sejak awal sebelum kedatangan Islam, Yahudi, Nasrani, Majusi, Penyembah Berhala, Penyembah Ruh Nenek Moyang, Dewa-dewa, Animisme, dan Dinamisme. Keragaman agama ini adalah bukti nyata bahwa pluralitas agama telah ada sebelum Islam muncul. (Thoha Yahya Omar, Islam & Dakwah, Jakarta: Zakia Islami Press, 2004)

Saat seluruh manusia dalam kejahiliyahan menyembah berhala dan menuhankan manusia, di jazirah Arab, sebuah kawasan tandus, lahirlah seorang anak manusia dari pasangan Abdullah dan Aminah. Seorang anak yang diberi nama Ahmad. Ahmad adalah nama kecil Rasulullah saw, yang kemudian dikenal sebagai penerima risalah langit, wahyu Allah, Rasul Allah penutup sekalian Nabi dan Rasul, Muhammad sallallahu alaihi wa salam. Dengan diturunkannya risalah Islam kepada Nabi Muhammad, maka segala bentuk kemusyrikan dan kekafiran disingkirkan. Rasulullah menyeru kepada sekalian umat manusia untuk menyembah Allah Swt semata. Seruan inilah yang dikenal dengan dakwah, Dakwah Ilallah atau Dakwah Islamiyah. (Acep Aripudin, Dakwah Antarbudaya, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012).

Kini 1400 tahun berlalu sudah sejak Rasulullah saw, dikebumikan di tanah Haram, Madinah al Munawaroh. Selepas beliau tiada, banyak dinamika dan pergolakan hidup manusia terjadi dan terus berlangsung hingga saat ini. Bagi seorang Muslim, tetap berpegang teguh pada akidah Islam adalah solusi tepat sebagai jalan keluar dari berbagai kemelut yang terjadi. (Syekh Muhammad Abu al-Fatah al-Bayanuniy, al-Madkhal Ila Ilmi ad-Dakwah, Jakarta: Akademika Pressindo, 2010).

Sebagaimana sabda Rasulullah saw;
“Aku berpesan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, taat dan patuh meskipun diperintah oleh seorang hamba sahaya. Sesungguhnya orang yang hidup (setelahku) akan melihat perselisihan yang banyak, maka kalian harus berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa ar-Rasyidun yang mendapat petunjuk. Berpeganglah kepadanya dengan kuat, jauhkanlah oleh kalian hal-hal yang baru, sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Resonansi gerakan 212 yang terus diperingati setiap tahun, diharapkan mampu merajut persatuan dan kesatuan umat Islam di Nusantara ini. Indonesia sebagai sebuah Negara dengan populasi terbesar umat Islam di dunia, menjadi parameter penting untuk lahirnya sebuah peradaban Islam yang gemilang. Sudah saatnya kita menyudahi perselisihan-perselisihan furu’iyah yang tidak produktif. Dengan kembali kepada risalah Allah, bersatu dibawah komando Ulama-ulama pewaris nabi, Indonesia kelak akan menjadi satu peradaban Islam, yang akan memimpin dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *