Browse By

Saat dunia mengakui otobiografi Diponegoro

Sejauh mana buku pelajaran sejarah Indonesia memberikan pengetahuan kepada para pelajar mengenai siapa sesungguhnya Pangeran Diponegoro.

Sebagian besar informasi yang terpatri biasanya adalah perjuangan Diponegoro dalam melawan penjajah Belanda, terutama di antara tahun 1825 hingga 1830, tahun-tahun berkobarnya Perang Jawa atau yang dikenal dalam bahasa Belanda sebagai De Java Oorlog.

Buku-buku sejarah yang beredar, kebanyakan juga hanya sekelibat menceritakan tentang masa kecil Diponegoro. Namun tidak dengan “Babad Dipanegara”, yang secara rinci bercerita mengenai sosok Diponegoro.

“`Babad Dipanegara` adalah naskah kuno berupa otobiografi dan perjalanan hidup Diponegoro yang ditulis selama dia diasingkan di Manado pada 1831 hingga 1832.

Naskah kuno ini kemudian pada akhir Maret 2012 diajukan dalam sebagai ingatan kolektif dunia secara internasional atau International Memory Of the World (MOW), dan pada Juni 2013 naskah otobiografi ini berhasil diakui sebagai Internasional MOW Register.

MOW merupakan satu program yang digerakkan oleh Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan budaya (Unesco), yang bertujuan untuk menghargai dan merawat serta mengupayakan publikasi atas peninggalan-peninggalan berupa catatan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa kesejarahan atau pun budaya yang dianggap penting bagi dunia.

“Ini adalah bagian dari sejarah dunia yang membanggakan Indonesia. Karena untuk masuk dan diterima di dunia internasional itu susah sekali,” ujar Kepala Bidang Litbang Kominfo Aizirman Djusan di Jakarta.

Tidak hanya “Babad Dipanegara”, pada saat yang bersamaan Unesco juga mengakui dokumen kuno “Nagarakretagama” sebagai Internasional MOW Register. Sebelumnya pada 2007, Indonesia mengajukan “Nagarakretagama” dalam Regional MOW Register yang kemudian disetujui Unesco dalam sidang tahun 2008 di Canberra, Australia.

“Pada akhir Maret 2012 dokumen ini kembali diajukan bersama naskah otobiografi `Babad Dipanegara` dan akhirnya diakui pada Juni ini,” jelas Aizirman.

Pada kesempatan yang sama, Guru Besar dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Edi Sedyawati menjelaskan bahwa “Nagarakretagama” adalah dokumen gubahan Empu Prapanca yang merupakan deskripsi kejayaan dan kebesaran Majapahit pada masa pemerintahan Hayam Wuruk.

“Dokumen kuno ini ditulis di atas daun lontar dengan huruf dan bahasa Jawa Kuna, serta berisi tentang hukum, undang-undang serta tata pemerintahan yang menjadi warisan Majapahit,” jelas Edi.

Selain “Babad Dipanegara” dan “Nagarakretagama”, naskah kuno bernama “I La Galigo` sudah terdaftar sebagai International MOW Register pada 27 Juli 2011. I La Galigo merupakan karya sastra terbesar di dunia yang berasal dari Sulawesi dan diperkirakan ditulis sekitar abad ke-10.

Geram

Sosok Diponegoro pada masanya tentu cukup dibenci sekaligus disegani oleh bangsa penjajah. Hal itu diceritakan secara rinci dalam buku “The Power of Prophesy” yang diterbitkan oleh penerbit Belanda pada 2008 silam.

Tertulis dalam buku itu, bahwa Diponegoro adalah seorang jenius Jawa yang ditakdirkan untuk menjadi benteng terakhir dari ketahanan Penguasa Jawa terhadap arus kolonialisme.

“Tapi setelah saya membaca buku tersebut dari depan sampai akhir, justru timbul perasaan geram dan marah,” ujar pengamat pendidikan dan kebudayaan Wardiman Djojonegoro di gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta.

Wardiman menjelaskan bahwa dalam buku tersebut Diponegoro ditulis sebagai seorang bangsawan Jawa yang murka karena tidak mendapatkan tahta kerajaan. Tidak hanya buku “The Power of Prophesy”, namun buku-buku sejarah di luar negeri ternyata juga menuliskan kisah mengenai perebutan tahta ini.

Sementara itu, berdasarkan data-data sejarah yang ditunjukkan oleh budayawan dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Peter Carey, Diponegoro telah dua kali menolak menjadi pewaris tahta. Bahkan perjuangan Diponegoro yang dijuluki `Ratu Adil`, didukung oleh para bangsawan, rakyat, dan ulama.

“Maka timbulah tekad untuk meluruskan tulisan sejarah sesuai fakta yang ada,” kata Wardiman.

Dalam “Babad Dipanegara”, Wardiman memaparkan memang ada tertulis bahwa Diponegoro adalah seorang pembangkang yang tidak mau menyembah Sultan Muda serta beristri banyak. Namun reaksi itu menurut Wardiman dapat dijelaskan dalam naskah otobiografi kuno “Babad Dipanegara”.

“Kami patut bersyukur karena dunia internasional sudah menerima “Babad Dipanegara”, dan hendaknya ini menjadi inspirasi dan tekad untuk langkah selanjutnya,” kata Wardiman.

Yang dimaksud oleh Wardiman adalah supaya Babad Dipanegara bisa menjadi acuan untuk buku-buku sejarah baik di dalam maupun di luar negeri, untuk melengkapi kisah mengenai Diponegoro sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

“Agar para akademisi Indonesia juga bisa menggali lebih banyak lagi sejarah dari abad 17, 18, dan 19, sehingga saat menuliskannya tidak terlalu bergantung kepada penulis barat,” tegas Wardiman.

Minim Publikasi

Di balik rasa bangga dan bahagia atas diakuinya Babad Dipanegara di panggung internasional, budayawan dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Peter Carey mengatakan bahwa bangsa Indonesia tetap harus sadar bahwa saat ini Indonesia masih menghadapi situasi yang sulit terkait dengan naskah-naskah serta dokumen-dokumen kuno tersebut.

“Ini adalah satu tantangan besar. Bagaimana kami bisa menjamin bahwa masyarakat akan bisa menjangkau naskah yang sudah diakui sebagai Ingatan Kolektif Dunia tersebut,” kata Carey pada paparannya di gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Hingga saat ini baik naskah terjemahan dalam Bahasa Indonesia maupun edisi asli dari dokumen dan naskah kuno tersebut, masih sulit untuk dijangkau oleh masyarakat umum atau bahkan sama sekali tidak ada akses.

Carey mengatakan bahwa sampai sekarang belum ada terbitan atau terjemahan lengkap dari naskah asli Babad Dipanegara yang ditulis dalam aksara `pegon` (Bahasa Jawa yang ditulis dengan aksara Arab gundul) dari naskah asli yang dulu disimpan oleh keluarga Diponegoro di Makasar, dan sekarang konon hilang.

Naskah yang dimaksud oleh Carey adalah naskah Babad Dipanegara versi yang telah diedit dari kopi aksara Jawa yang dibuat oleh Bataviaasch Genootschap di Algemene Secretarie (Sekretariat Negara) di Bogor pada 1860. Naskah ini juga pernah diterbitkan oleh penerbit Hindia Belanda, Albert Rusche & Co, di Surakarta pada 1908 – 1909.

“Tapi pada edisi ini hampir sepertiga dari isi babad tersebut dihilangkan, yaitu bagian yang terkait dengan sejarah nabi-nabi dan sejarah Jawa,” ungkap Carey.

Memang ada publikasi empat jilid babad ini yang telah beredar di Perpustakan Nasional RI pada 2010, namun sayang sekali sifatnya masih sangat terbatas. Publikasi ini juga terbatas karena menghilangkan hampir satu bagian penuh dari naskah asli, sehingga tidak didasarkan atas naskah dari aksara pegon yang asli.

“Yang disayangkan lagi, edisi ini juga tidak dijual untuk umum, sehingga masih sulit dijangkau masyarakat apalagi bagi mereka yang tidak mengerti Bahasa Jawa,” keluh Carey.

 

(sumber: http://www.antaranews.com/berita/383680/saat-dunia-mengakui-otobiografi-diponegoro)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *