Browse By

Sejarah Panjang Kemerdekaan Bangsa

Sejarah panjang kemerdekaan bangsa ini telah dimulai oleh para ulama sejak ratusan tahun silam. Bahkan tidak berselang lama seusai keruntuhan Andalusia/Spanyol di tahun 1492, yang disusul armada perang Portugis (dengan misi mennyebarkan agama dan meneruskan kampanye kejayaan kerajaan2 Kristen setelah menaklukkan kerajaan Granada sebagai daulah Islam terakhir di Andalusia) menyerang Melayu/Melaka, Sultan Demak saat itu Adipati Unus tercatat 2 kali berusaha menutup celah munculnya potensi penjajahan di bumi Nusantara dengan menghimpun sekitar 100.000 mujahiddin dari kesulthanan kesulthanan di seluruh Nusantara dengan menggunakan ratusan armada kapal perang. Beliau bersama 2 orang puteranya gugur sebagai syuhada’ diatas kapal yang dihantam peluru meriam Portugis, rakyat Melaka memberi gelar kepada Pati Unus sebagai Panglima Besar dari Jawa.

Perjalanan panjang para ulama melindungi Nusantara tidak berhenti dengan syahid maupun wafatnya Pati Unus, Fatahillah, Imam Bonjol, Cut Nyak Dhien, Diponegoro, Hasanuddin, Sultan Agung, Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Sambernyowo, Haji Oemar Said Cokroaminoto, Haji Agus Salim, Soedirman, Natsir, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, KH. Abdul Wahab Hasbullah, Bung Tomo, dsb. Karena perjuangan para ulama secara estafet terus berlanjut dengan seizinNya.

Kongres Ummat Islam Indonesia ke VI yang dibuka di Pagelaran Kraton Yogyakarta dan pernyataan Sultan HB XI perihal eratnya hubungan Khilafah Utsmaniyah Turki dengan para Sultan di Nusantara adalah fakta otentik bahwa dalam sejarah Nusantara, ulama telah berusaha melaksanakan tugas sebaik-baiknya.
Bahkan selepas para ulama dikhianati dalam Piagam Jakarta hanya berselang dua bulan kemudian situasi yang genting memaksa Soekarno menghadap para ulama untuk meminta fatwa jihad menghadapi kedatangan tentara Inggris di Soerabaya di tahun 1945.

Sejarah telah membuktikan bahwa selama ini ulama selalu ada bersama rakyat Nusantara..
Tentu yang dimaksud bukan ulama yang bisa dibeli, dan bukan pula ulama yang takut-takut kepada penguasa yang zalim.
Ulama yang dimaksud adalah yang tunduk dan takut hanya kepada Allaah.
Karena yang namanya ULAMA ADALAH YANG HANYA TUNDUK KEPADA KAIDAH KEKUATAN DALIL AL ILMI SYAR’I.

Karena itulah sila pertama dari Pancasila berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa yang merupakan ruh bangsa ini sebagai hasil rumusan para ulama saat itu harus dihayati dengan sungguh-sungguh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Semoga kita terus dengan tulus berdo’a kepada Allaah supaya harapan Sri Sultan Hamengkubuwono XI (sang penerus tahta pejuang ulama Pangeran Mangkubumi dan masih terikat hubungan waris dengan Pangeran Diponegoro) diijabah Allaah tabaraka ta’ala. Bukankah beliau sang Gubernur Yogyakarta ngendiko bahwa dalam situasi yang tidak jelas seperti sekarang ini, ulama diharapkan paling tidak dua perannya yaitu dalam hal tanggungjawab kepemimpinan dan penunjuk jalan.

Rakyat Indonesia dan insya Allaah demikian juga para Sultan seluruh Nusantara menanti apa kata ulama Allah di negeri ini.

Semoga Allaah azza wa jalla senantiasa menuntun para ulama di negeri ini.
Kami rakyat Indonesia siap berada bersama para ulama meneruskan estafet perjuangan para pendahulu bangsa ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *