Browse By

Hari 2 : Sejarah Pemikiran Islam

Notulen ILA3

Ahad / 17 Januari 2016

 

Sejarah
Pemikiran Islam

( Ust. Asep Sobari )

 

 

Sejarah                                 : Segala sesuatu yang telah terjadi dengan waktu yang tidak terbatas

Pemikiran                           : Pergulatan pemikiran sepanjang usia manusia

Pemikiran Islam               : Pergulatan pemikiran manusia dari masa sebelum Rasulullah – saat ini.

 

 

Dalam kajian ini, materi sejarah pemikiran Islam kita batasi sampai pada abad ke 8.

 

Pemikiran Islam berkembang dari interaksi manusia dengan Al-Quran melalui hati, akal, dan iman

 

Dalam masa Rasulullah, umat Islam menyerap wahyu Allah melalui bimbingan langsung dari Rasulullah SAW. 
Setiap kali ada masalah yang ditemui, Rasul selalu menunggu wahyu yang turun dari Allah SWT.

 

20 tahun setelah Rasul wafat, Agama Islam sudah
menjangkau ke banyak wilayah di negara-negara di dunia. Negara-negara tersebut
tentunya memiliki banyak latar belakang yang berbeda-beda dengan akar pemikiran
yang dulunya bukan Islam. Hal ini sebenarnya membuka banyak peluang untuk
terjadinya permasalahan. Tetapi kenyataannya justru dengan pemikiran Islam,
semua permasalahan / persoalan-persoalan tersebut dapat teratasi dengan solusi
yang syar`I sesuai dengan ajaran Al-Quran dan Sunnah.

 

Penyelesaian masalah-masalah yang muncul membuat
para ulama banyak menulis buku-buku/ kitab yang merupakan solusi nyata atas
permasalahan-permasalahan tersebut. Berbagai permasalahan yang muncul justru
memancing pemikiran-pemikiran untuk mencari tahu solusinya melalui
sumber-sumber yang terpercaya yaitu dari Al-Quran dan Hadits.

 

Sumber pemikiran para ulama dan umat ialah dari
Al-Quran – Sunnah/ Hadits – Ijma –  dan Qiyas.

 

Pada masa itu, para umat banyak belajar dari para
guru tetapi mereka tetap menyaring/ menyeleksi ilmu-ilmu yang di dapat yang
sesuai dengan ajaran Al-Quran dan Hadits. Sehingga pada masa itu selalu ada
solusi-solusi yang syar`i.

 

Pembahasan para ulama pada masa itu ialah mengenai
pemikiran-pemikiran yang besar, bukan pada pemikiran-pemikiran yang ringan.
Mereka sering membahas mengenai keberlangsungan negara, politik kepemimpinan
islam, permasalahan sosial ekonomi, dan permasalahan-permasalahan lainnya.

 

Kelebihan dari peradaban Islam ialah karena
bersumber dari sumber yang asli dan karena pada masa itu peradaban Islam sudah
berjaya dan mapan dalam segala hal karena sudah bisa memenangi peradaban lain
selain Islam (Peradaban Barat).

 

Pada masa itu, ulama menyerap nilai-nilai yang baik
dari peradaban budaya barat (nilai ilmiahnya), tetapi tetap menyaringnya dengan
tidak mengambil ranah-ranah yang diluar nilai-nilai Islam (misalnya nilai-nilai
mitosnya).

Jika ranah logika (aqal) didahulukan dari ranah
wahyu (naql) maka akan muncul mutazillah, yaitu pemikiran yang mendahulukan
logika di atas wahyu Allah.

 

Pada masa itu, pemikiran mutazillah diadopsi oleh
al-mamun untuk menjadi suatu pemikiran demi kepentingan politik melalui
kekuasaan pemerintahannya. Pada masa itu pemikiran  mutazilah menjadi doktrin,
bagi yang menolak diberi hukuman oleh pemerintah.

 

Pada masa itu Imam Ahmad mempertahankan umat dari
kesalahan pemikiran mutazillah. Ia menolak pemikiran Mutazillah. Dengan
pendekatan Imam Ahmad pemikiran umat Islam dapat diselamatkan, tetapi
Mutazillah tetap eksis.

 

100 tahun setelah Imam Ahmad wafat munculah Abdul
Hasan Al-Ashari. Beliau muncul dari keluarga Mutazillah, tetapi ia sendiri
menolak pemikiran Mutazillah. Kemudian pada masa Abdul Hasan Al-Ashari
mutazillah dirontkan, sehingga semua intelektual menyadari bahwa pemikiran
mutazillah itu keliru.

 

Tantangan pada masa Abdul Hasan Al-Ashari
selanjutnya adalah adanya pergesekan pemikiran akibat hasil produk-produk
pemikiran para ulama di masa lalu pada abad ke 4 menjelang perang Salib.

 

Akhir abad ke 5 kaum Nasrani benar-benar masuk ke
Syam.

 

Di awal abad ke 6, mazhab mulai dijadikan
perbedaan-perbedaan yang serius. Salah satunya sampai muncul wilayah
perkampungankaum Hambali sendiri, hanafi sendiri, dan yang lainnya. Bahkan
sampai ada pernyataan bahwa wanita kaum hanafi dilarang menikah dengan
laki-laki kaum hambali.

 

Di pertengahan abad ke 6 sudah tidak lagi muncul
perbedaan-perbedaan dari mazhab yang ada. Hal ini  merupakan buah kesadaran
tidak perlu mempermasalahkan masalah perbedaan mazhab ini sebagai suatu
permasalahan yang besar. Kemudian lahirlah masa Salahudin Al-Hayubi seiring
meredupnya percecokan-percecokan antar mazhab.

 

Pada abad ke 7 muncul kembali perbedaan-perbedaan
yang memuncak.

 

 

TANYA
JAWAB

 

Akhwat

Bagaimana caranya agar umat islam di masa sekarang
dapat menemukan titi balik kejayaan seperti di masa Salahudin Al-Ayubi?

 

Ikhwan

Tolong jelaskan pandangan Ustadz mengenai
pendekatan yang dipakai Presiden Erdogan saat ini?

 

 

Jawaban:

·     
Untuk menjawab bagaimana caranya kembali kemasa kejayaan di masa
lalu perlu suatu kajian yang panjang. Karena jawabannya luas dan merupakan
suatu proses yang panjang. Saat ini kita perlu berintrospeksi terlebih dahulu,
apakah posisi turunnya kita saat ini adalah turun dalam posisi turun jauh, atau
titik turun yang sedang bertahan, atau bahkan dalam posisi turun yang sedang
bersiap akan naik. Saat ini kita perlu pelajari terlebih dahulu sejarah dari
turunnya umat Islam saat ini. Kelemahan umat saat ini ialah dari pemikiran,
keilmuan, pemahaman, budaya, dan pada akhirnya membentuk peradaban yang berbeda
dengan kejayaan di masa lalu. Jika pemikiran umat saat ini kembali kepada Al-Quran
dan Sunnah juga diiringi dengan adanya orientasi manusianya yaitu akhlak dan
adab yang baik, maka in syaa Allah kita dapat kembali seperti pada masa
kejayaan di masa lalu.

 

·     
Pendekatan yang diterapkan oleh Erdogan saat ini perlu kita
pandang dalam kaca mata yang luas. Kepemimpinan Erdogan saat ini adalah
kelanjutan dari kepemimpinan sekuler di masa lalu sehingga beliau perlu
melakukan pendekatan-pendekatan yang halus di awal, kemudian baru menunjukan
startegi-strateginya. 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *