Browse By

Sidrotun Na’im – Simbol Perempuan, Islam, dan Science

sidron_4sidron_2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ini foto resmi audiensi dan jamuan makan siang dengan Raja Felipe dan Ratu Letizia, dimana masing-masing dari kami menerima pin kehormatan dari Kerajaan dan Yayasan Asturias (dipasang di sebelah kiri). Ada dua bendera Merah Putih dikibarkan di kiri dan kanan panggung ini (sayang tidak kelihatan), selain bendera raksasa yang dinaikkan di puncak gedung dan di public space.

Malam harinya, puncak acara resmi Prince of Asturias Award (tahun depan berubah menjadi Princess of Asturias Award) di gedung yg sangat sakral dan megah, ada tiga tingkat balkon dalam kubah. Di karpet biru yang sama, Nelson Mandela, Woody Allen, Hawking, Gates, Nadal, dsb pernah berjalan. Tiga teman dari US, Pakistan, dan apalagi Afrika Selatan, beneran nangis setelah kami turun dari panggung, berpelukan dan meraung-raung. Bahkan pejabat dari US Dept of State pun bilang belum pernah punya pengalaman seintense malam kemarin. Yang anak Amerika, langsung menelepon ibunya saking histerisnya.

Apakah saya juga punya emosi serupa? Tentu, bedanya saya tidak seekspresif mereka sampai mewek, hehehe. Detik yg paling membuat detak jantung berdegup kencang, saat nama saya dipanggil dan dibacakan, (dalam Bahasa Spanyol tentunya), “Sidrotun Naim from Indonesia” dan detiknya itu beneran pas di anak tangga terakhir karpet merah sebelum berganti karpet biru di atas. Mengapa di ujung anak tangga itu bisa membuat yg mengalaminya dag dig dug? Karena memang di karpet itu pernah melintas orang-orang besar. Susah memang digambarkan. Kalau nama saya disebutkan di event seperti itu, sebenarnya tidak terlalu membawa emosi. Tetapi karena disebutkan ‘From Indonesia’, dan tanpa harus ngomong pun saya menyimbolkan setidaknya 2 karakter secara langsung, perempuan dan muslim. Ada tanggung-jawab di pundak bahwa saya membawa wajah perempuan, membawa wajah umat Islam. Saat resepsi, seorang professor kimia dari Universitas Oviedo mendekati saya, menanyakan beberapa hal yang saya sampaikan saat memberikan kuliah di Universitas Oviedo sehari sebelumnya. Beliau juga cerita, sebagai orang Oviedo, sejak pertama kali penghargaan ini diberikan tahun 1980, dia selalu mengikuti, dan seingat beliau ini pertama kali seorang (perempuan) berjilbab naik panggung, belum lagi bahwa saya bekerja di bidang sains. Kombinasi tiga hal, simbol perempuan, Islam, dan scientist di dalam satu orang itu susah ditemukan dan itu sangat penting, sekaligus sesuatu yang ‘tidak biasa’ bagi warga Oviedo.

Menjelang, sepanjang acara, masyarakat tumpah ruah di pinggir jalan, dan terus begitu sampai malam. Ada banyak cerita saat kami makan semeja dengan Raja dan Ratu (Plus Ibu Suri Sofia). Ratu Sofia datang langsung ke Aceh tidak lama setelah tsunmi. Ratu Letizia adalah wartawan profesional yang bolak-balik Irak-Afghanistan dll, kemudian ‘menyerah pada nasib’ menjadi seorang ratu. Raja Felipe, orangnya ganteng beneran dan kami paling tersentuh setelah foto bersama ini, tiba-tiba beliau bilang: “Bolehkah saya minta tolong jangan berpindah dulu, Ibu saya mau datang. Saya selalu mengajak beliau foto bersama para pemenang hadiah ini selama 34 tahun.”sidron_1sidron_1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *