Browse By

Surat Dukungan APII untuk Ibu Risma

Tri Rismaharini Surabaya 2 Surat Dukungan APII untuk Ibu Risma

Surat Pernyataan Kepada Ibu Risma (Walikota Surabaya)

Terkait Dukungan Penutupan Lokalisasi Dolly

 

Melihat keadaan bangsa, dekadensi moral yang sangat massif dan sistemik merupakan PR bersama baik kalangan masyarakat sebagai rakyat maupun para pemimpin penguasa di negeri ini. Salah satu penyebab kemerosotan moral yang sistemik ini adalah eksistensi praktik prostitusi. Dolly adalah salah satu pusat prostitusi yang bahkan terbesar di Asia Tenggara.

Maka, demi menyelamatkan generasi bangsa mewujudkan Indonesia yang lebih bermartabat, kami Aliansi Pemuda Islam Indonesia (APII) mendukung sepenuhnya tekad ibu Walikota Risma Trimaharini untuk menutup lokalisasi prostitusi Dolly secara permanen. Alasan kami diantaranya adalah:

  1. Praktik prostisusi Dolly melanggar PERDA No 7 tahun 1999 tentang Larangan Menggunakan Bangunan / Tempat Untuk Perbuatan Asusila Serta Pemikatan Untuk Melakukan Perbuatan Asusila.
  2. Menurunkan moralitas masyarakat utamanya generai muda Surabaya. Karena praktek pelacuran Dolly telah memberikan ekses buruk bagi perkembangan moralitas anak-anak yang hidup di sekitar area prostitusi. Padahal telah menjadi amanat konstitusi bahwa anak harus diberikan perlindungan dari segala macam ancaman yang mengganggu bahkan merusak hak mereka untuk bertumbuh secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan yang luhur. Termasuk di dalamnya adalah melindungi anak-anak dari contoh-contoh perilaku asusila dan tidak bermoral dari praktek pelacuran Dolly. Oleh sebab itu, sejatinya pelacuran Dolly telah melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak Pasal 1 ayat 2 yang berbunyi “Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”
  3. Prostitusi selamanya bertentangan dengan nilai-nilai peradaban bangsa indonesia yang arif dan luhur. Prostitusi Dolly sama sekali bukan lahir dari kearifan budaya lokal surabaya terlebih lagi Indonesia. Sejarah mencatat bahwa sebutan Dolly itu sendiri diambil dari nama seorang wanita nista asli belanda di zaman kolonial bernama Nadam Dolly, yang menjadi perintis sekaligus pelestari pelacuran di Surabaya. Maka jelaslah bahwa Pelacuran Dolly adalah merupakan bentuk penjajahan terhadap budaya dan kearifan lokal bangsa indonesia yang luhur. Maka usaha yang dilakukan oleh Walikota Surabaya sejatinya adalah wujud riil aksi bela negara. Kita harus mendukungnya..!
  4. Praktek prostitusi (utamanya Dolly) telah menyebabkan meningkatnya jumlah penderita HIV / AIDS di Surabaya. Maka solusi paling paripurna yang harus dilakukan adalah dengan menutup lokalisasi Dolly secara permanen, bukan hanya sekedar memberikan penyuluhan tentang perilaku sex yang aman dengan penggunaan alat kontrasepsi. Sebab perilaku sex yang aman dengan alat kontrasepsi terbukti GAGAL menghilangkan perilaku asusila.

Mari dukung upaya perbaikan negeri ini mulai dari daerah terdekat kita. Ibu Risma sebagai pemimpin yang bertanggung jawab atas wilayah Surabaya telah memberikan teladan yang baik tentang sebuah amanah bahwa kepemimpinan tidak hanya soal berkuasa dan jabatan, tapi juga soal terjaminnya adab, pendidikan, kenyamanan, kesejahteraan dan ketaatan baik kepada aturan pemerintah maupun aturan Tuhan. Semoga dimudahkan oleh Allah dan semoga para pemimpin daerah lainnya mampu mengambil contoh kebaikan ini untuk menyelamatkan masyarakat menuju Indonesia yang beradab.

Kami berharap, penutupan pun diikuti dengan adanya solusi terbaik untuk para pekerja seks komersial yakni pembinaan dan pelatihan demi mengangkat harkat dan martabat mereka sekaligus sebagai solusi masalah ekonomi.

 

Presiden APII

Agastya Harjunadhi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *