Browse By

Taat dan Jujur dalam Bermuamalah

Dalam beberapa kajian, Ustadz Adiwarman Karim menyampaikan salah satu kisah yang berkaitan dengan surat Al-Baqarah (Sapi Betina). Kurang lebih begini ceritanya…

Seorang anak diperintahkan oleh ibunya untuk menjual sapi betina peninggalan ayahnya yang telah meninggal. Ibunya berpesan untuk menjual sejumlah harga tertentu. Dalam perjalanan menuju pasar, dikisahkan ada seseorang yang menawarkan harga lebih tinggi dibandingkan dengan harga yang disampaikan ibunya. Sebagai anak yang sangat taat kepada ibunya, anak tersebut tidak melepaskan sapi tersebut, meskipun ditawarkan dengan harga yang lebih tinggi. Sesampainya di pasar, tidak ada orang yang berani menawar lagi karena mengira bahwa orang yang sebelumnya menawarkan harga lebih tinggi pun tak berhasil memperoleh sapi tersebut. Alhasil sapi tersebut dibawa pulang kembali oleh sang anak. Keesokan harinya sang anak kembali menuju pasar, dan terulang kembali kejadian seperti hari sebelumnya.

Sang ibu yang mengetahui bahwa sang anak begitu patuh padanya, akhirnya berkata “juallah sapi ini beberapun kamu mau”.

Maksud sang ibu tiada lain adalah agar sapi tersebut lekas terjual, mengingat kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Dikisahkan bahwa Allah mengutus malaikat yang menyamar menjadi manusia untuk memperlihatkan kekuasaan-Nya dan menguji seberapa besar bakti pemuda itu kepada ibunya, juga untuk menguji ketaatan dan kejujuran sang anak. Sang malaikat berkata bahwa dia berniat membeli sapi tersebut dengan syarat bahwa anak tersebut tidak boleh mengatakan harga jual yang sebenarnya kepada sang ibu. Anak yang taat dan jujur tersebut akhirnya memilih untuk tidak menjual sapinya kepada orang yang ditemuinya. Dia kembali membawa pulang sapinya. Dari kejauhan, sang ibu melihat anaknya kembali kerumah, masih bersama sapi betinanya.

Sang ibu menanyakan “Apakah tidak ada yang menawar sapi ini Nak?”

Anak tersebut menceritakan tentang syarat yang diajukan oleh calon pembeli sebelumnya. Dia menyampaikan bahwa dia tidak ingin berbohong kepada ibunya, sehingga memutuskan untuk tidak menjual sapinya.

Di waktu yang bersamaan, Bani Israel sedang mencari sapi betina dengan kriteria khusus yang ternyata hanya dimiliki oleh sapi betina yang hendak dijual oleh sang anak. Singkat cerita, sapi tersebut laku terjual seharga emas seberat sapi tersebut.

Dari kisah ini, beliau ingin menginsipirasikan kepada kita, mengingatkan kepada kita bahwa tugas muslim adalah ikhtiar dijalan Allah dalam segala hal, termasuk dalam hal bermuamalah. Wajib bagi seorang muslim untuk bermuamalah dengan tetap menjaga nilai-nilai yang telah Allah tetapkan, termasuk menghindari hal-hal yang Allah haramkan. Dari kisah tersebut kita belajar bahwa kesuksesan yang diperoleh sang anak yang berhasil menjual sapi dengan harga yang sangat tinggi bukan karena kepiawaiannya dalam memasarkan produknya, juga bukan karena kepandaiannya dari sisi duniawi. Pencapaian tersebut justru terjadi karena ketaatan dan kejujuran yang dia pegang teguh. Maka semestinya, begitulah sebagai seorang muslim yang taat kepada Allah. Allah telah menjamin rizqi kita, maka melalaikan ketaatan pada-Nya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijamin-Nya adalah kekeliruan berganda. Semoga Allah senantiasa jaga dan kuatkan kita untuk senantiasa menapaki jalannya, menguatkan kita untuk senantiasa menjadi pribadi yang taat dan jujur dalam setiap muamalah yang kita lakukan.

Wallahu A’lam Bishawab.

oleh: Lisa Listiana (@Listianaica)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *