Browse By

Tabligh Akbar Sambut Ramadhan

Tabligh-Akbar-Menyambut-Ramadhan-1436H_Sosmed

AQL Islamic Center – Al Qur’an sebagai manual life (panduan hidup) merupakan solusi besar bagi masyarakat dalam mengokohkan kembali lembaga keluarga Indonesia, yang sedang menghadapi ancaman serius dari berbagai penyakit sosial, terutama narkoba dan pornografi.

Demikian kesimpulan yang mengemuka dalam Tabligh Akbar “Sambut Ramadhan Kokohkan Keluarga Indonesia dengan Al-Qur’an” yang digelar di Masjid Raya Istiqlal, Jakarta Pusat, Selasa (2/5/2015). Sekitar 15.000 jamaah dari berbagai pelosok Jabodetabek, Banten, dan Jawa Barat, memadati Masjid Istiqlal hingga ke lantai empat gedung masjid negara tersebut.

Tampil sebagai pembicara utama Pimp. AQL Islamic Center Ust. Bachtiar Nasir, Tokoh Zakat Nasional Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin MS, dan Direktur Pemberdayaan Keluarga & Kelembagaan Sosial Kemensos Drs. Hasbullah. Ikut mendukung acara Artis Muslimah Oki Setiana Dewi, Direktur Kokoh Keluarga Indonesia (KKI) Ust. Bendri Jaisurrahman, dan Tahfizh & Tafsir Internasional Ust. Deden M. Makhyaruddin.

Serta tak ketinggalan penampilan penghafal Qur’an Cilik Hilya (Juara Pertama Hafizh Indonesia RCTI-2013) dan Mas Bro (Juara Favorit Hafizh Qur’an Trans7-2014). Kini Hilya di usia 7 tahun sudah hafal Al Qur’an 18 Juz, sedangkan Mas Bro di usia 5 tahun sudah hafal Al Qur’an  3 Juz.

Menurut Ust. Bachtiar  yang juga sebagai pembina KKI, Al Qur’an memang sudah menjadi solusi besar bagi anak-anak yang telah menjadi korban penyakit sosial, seperti narkoba dan pornografi. “Dari pengalaman saya membuat acara Al Qur’an di televisi mainstream, cukup menginpirasi keluarga dan anak-anak di pelosok Indonesia untuk menghafal Al Qur’an,” katanya.
Setidaknya, lanjut ustadz yang akrab disapa Abi Bachtiar di acara Hafizh Qur’an Trans7 ini, belakangan ini mulai banyak para ayah dan ibu di banyak daerah yang bersungguh-sunguh ingin mendidik anaknya untuk menghafal Al Qur’an. “Ini sebuah fenomena yang menarik yang harus terus didukung dan difasilitasi, agar dalam 10 atau 20 tahun mendatang akan lahir generasi baru Idonenesiadengan mainset Al Qur’an yang kuat,” tangasnya.

Lebih jauh Ust. Bachtiar mengungkapkan bahwa saat ini keluarga Indonesia sedang dalam status “Darurat Narkoba dan Pornografi”. Lebih 4 juta rakyat Indonesia, ungkapnya, pemakai narkoba yang lebih 50% penggunanya adalah remaja.

Sementara  80% remaja Indonesia sudah kecanduan pornografi. “Keadaan ini yang menjadikan keluarga Indonesia saat ini melahirkan ‘generasi lemah’. Cara terbaik untuk kembali mengokohkan keluarga Idonesia, yakni dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan hidup (manual life).

Senada dengan Ust. Bachtiar, Drs. Hasbullah yang hadir mewakili Mensos Khofifah Indra Parawansa, menilai bahwa terganggunya kekokohan keluarga di Indonesia, lebih karena adanya intervensi kebudayaan & pemikiran yangg begitu dahsyat telah masuk ke dalam lembaga keluarga. Tanpa bisa dibendung, lantaran tidak didukung oleh pemahaman agama yang kuat di keluarga tersebut.

Sehingga, ungkapnya, banyak keluarga-keluarga muda yang sudah tidak percaya lagi dengan lembaga perkawinan, dan mililih perceraian sebagai alternative jalan keluar. “Jika kondisi ini dibiarkan akan sangat membahayakan, karena hancurnya sebuah masyarakat dikarenakan hancurnya kekokohan lembaga keluarga,” jelas Hasbulllah.

Menurutnya, ia tidak pernah membayangkan bahwa angka perceraian di Indonesia cukup besar, yakni mencapai 17%.  “Yang bisa diajak rujuk kembali hanya 3%. Artinya 14%-nya sudah memutuskan untuk tidak mau rujuk lagi,” katanya.

Alasannya, tambah Hasbulah, rata-rata karena faktor ekonomi. Namun sesungguhnya bukan hal itu yang menjadi faktor pemicu perceraian. “Tetapi lebih karena faktor cara pandangan hidup yang berkaitran dengan persepsi pemikiran yang masuk kedalam lembaga keluarga itu sendiri,” tuturnya.

Jadi, lanjut Hasbullah,  masalah ekonomi bukan sebagai penyebab utama. Tetapi lebih pada faktor landasan pemikiran dan cara pandang hidup yang salah, yang tidak berangkat dari sudut padang agama.

“Oleh karena itu, para tokoh masyarakat dan agama, yang dibantu peran media massa, harus mampu mengokohkan kembali lembaga keluarga, agar kita bisa kembali membangun masyarakat yang sehat lahir dan bathin, lewat pembangunan spiritual dan kurikulum pendidikan yang berbasis agama,” tegasnya.

sumber: aqlislamiccenter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *