Browse By

Tradisi Maulid Nabi dan Syi’ahisasi?

Oleh, Jemmy Ibnu Suardi

Researcher Pusat Kajian Strategis Yilead-AQL

Ketika masuk bulan Rabiul Awal, atau bulan Maulid mayoritas umat Islam di Nusantara bersuka-cita dan bersyukur, lantaran di bulan ini dilahirkan junjungan seluruh alam, Nabi Allah Muhammad Sallahu alaihi wassalam.

Tradisi muludan yang biasa ada di bulan maulid, di Nusantara sudah berlangsung bertahun-tahun, bahkan lebih dari seratus tahun sebelum Republik Indonesia ini ada, sejak zaman kesultanan – kesultanan di nusantara ini masih berdiri. Katakanlah Banten, tradisi muludan sudah ada sebelum kemerdekaan, dimana wilayah ini masih bernama Kesultanan Banten. Usia kesultanan yang berdiri sejak 1552 masehi, sekurang-kurangnya lebih dari 400 tahun, sebelum akhirnya dibubarkan oleh Belanda di awal tahun 1900-an.

Sikap kontemporer terhadap tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah di kepulauan Melayu ini setidaknya terbagi kedalaman dua kutub. Pertama adalah yang melarang dan yang kedua menganjurkan.

Bagi pihak yang melarang, tradisi maulid dianggap sebagai bid’ah, ibadah yang tidak ada tuntunannya pada baginda Nabi Muhammad Sallahu alaihi wassalam. Sekurang-kurangnya hal ini bisa di katakan sesat menyimpang, hingga masuk neraka.

Bagi pihak yang menganjurkan, mengatakan justru tradisi maulid adalah sunnah Nabi, dimana yang pertama memperingati hari kelahiran Nabi adalah Nabi Muhammad itu sendiri, dimana sebuah hadist yang mahsyur, mengatakan bahwa Nabi sentiasa berpuasa di hari kelahirannya, dan dihari saat beliau diangkat menjadi Nabi. Ini kemudian menjadi amalan umat muslim, puasa sunnah senin-kamis.

Infiltrasi Syi’ah

Syi’ah adalah sebuah agama yang muncul sejak abad ke-16 masehi, jelas Prof. Syed Naquib Al Attas. (lihat Syamsuddin Arif, Bukan sekedar Mazhab: Oposisi dan Heterodoksi Syi’ah, INSISTS.2018)

Menurut penentang tradisi maulid, syi’ah adalah kelompok pertama yang mempopulerkan tradisi maulid. Sehingga tradisi ini menyimpang, dan diamalkan oleh orang yang menyimpang tentunya.

Namun demikian, yang menarik adalah adanya sebuah anomali, dimana selama ratusan tahun tradisi maulid di rayakan di Nusantara, tapi mayoritas penduduknya adalah ahlul sunnah wal jama’ah, bukan syi’ah dan tidak berubah menjadi syi’ah.

Syi’ah sendiri menurut, Dr. Syamsuddin Arif dalam bukunya, Bukan Sekedar Mazhab: Oposisi dan Heterodoksi Syia’h menjelaskan, ada tiga macam Syi’ah, yaitu pertama, Syi’ah terminologis; kedua, Syi’ah politis ; dan ketiga, Syi’ah ideologis.

Syi’ah terminologis adalah syi’ah dalam artian umum secara bahasa yang bermakna kelompok, puak, pengikut, atau pembela. Dalam pengertian ini misalnya kita bisa menyebut Nusron Wahid sebagai “Syi’ah Ahok,” dalam arti pembela Ahok.

Yang kedua, Syi’ah Politis, adalah Syi’ah dalam arti khusus, yakni kata yang digunakan untuk menyebut para sahabat (misalnya ; Abdullah bin Abbas, Ammar bin Yasir, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Ayub al-Anshari) yang berpihak, mendukung, dan setia berjuang bersama Sayyidina ‘Ali ketika terjadi pertikaian diantara umat, selepas syahidnya Sayyidina Utsman bin Affan.

Adapun kesyi’ ahan Abdullah bin Abbas misalnya, tidak sama dengan syi’ahnya Khomeini yang mencela dan menghina para sahabat dan memiliki paham Imamah dalam hal teologis khas seorang Rafidi.

Adapun yang ketiga adalah Syi’ah Ideologis, yakni Syi’ah yang memiliki makna tersendiri mencakup keyakinan (aqidah atau i’tikad), cara pandang menyeluruh (worldview), pola pikir (mindset), dan kerangka berpikir (intelectual framework) yang kemudian membentuk sikap, mempengaruhi perilaku, menentukan pemahaman, dan mewarnai penafsiran pada fakta dan peristiwa. Ini adalah gerakan sempalan yang muncul sekitar dua ratus tahun sesudah wafatnya Rasulullah saw. (Syamsuddin Arif, Bukan sekedar Mazhab: Oposisi dan Heterodoksi Syi’ah, INSISTS. 2018. hal. 15-17)

Syi’ah ideologis ini kemudian yang mematenkan konsep-konsep Taqiyah, Imamah, Mut’ah, Laknat pada para sahabat dan evolusi akidah lainnya. Syi’ah jenis terakhir ini berkembang sedemikian rupa yang akhirnya membentuk sebuah pemerintahan politik, dinasti Syafawi di Persia tahun 1501 masehi dan gencar melakukan gerakan Syi’ahisasi.

Persia yang awalnya adalah wilayah Ahlussunnah wal jamaah lebih kurang 800 tahun dari abad ke-7 hingga akhir abad ke-15 masehi, mengalami konversi paksa menjadi Syi’ah dengan konsep dasar yang berbeda dengan Ahlussunnah wal Jama’ah pada umumnya. (Syamsuddin Arif, Bukan sekedar Mazhab: Oposisi dan Heterodoksi Syi’ah, INSISTS. 2018. hal. 2-7)

Syi’ah ideologis kemudian berkembang setidaknya menjadi tiga varian; [i] syi’ah tafdil, [ii] syi’ah rafidah, [iii] syi’ah ghulat. Jenis pertama syi’ah tafdil hanya sekedar menganggap Sayyidina Ali sebagai orang paling unggul, hebat, istimewa (afdal) diantara atau dibandingkan dengan para sahabat Nabi saw. Anggapan ini tanpa disertai dengan pengingkaran, penolakan, pelecehan, atau kutukan pada para ketiga Khalifah, Sahabat Nabi yang lain, dan istri-istri nabi.

Jenis kedua syi’ah rafidi adalah pendapat yang mengatakan bahwa Sayyidina Ali ialah satu-satunya orang yang paling berhak atas kepemimpinan umat setelah wafatnya Nabi saw, dan menganggap kekhalifahan sebelumnya tidak sah. Istilah Rafidi ini sudah muncul sejak abad kedua hijriyah. Karena keyakinan mereka atas penunjukan Sayyidina Ali dan para Imam sesudahnya, kelompok ini kemudian dikenal dengan nama Syi’ah Imamiyah, dan terpecah menjadi Ismailiyah dan Itsna ‘Asyariyyah.

Adapun jenis ketiga, syi’ah ghulat atau ghuluww adalah mereka yang mempunyai kepercayaan pelik lagi cenderung kufur dan syirik. Misalnya mereka percaya Sayyidina Ali itu Tuhan berwujud manusia. Ali dan imam-imam sesudahnya tidak mati, melainkan bakal datang kembali di akhir zaman untuk memenuhi dunia dengan keadilan. Para imam maksum, mustahil berdosa, imam-imam tersebut bahkan lebih mulia dari malaikat. (Syamsuddin Arif, Bukan sekedar Mazhab: Oposisi dan Heterodoksi Syi’ah, INSISTS. 2018. hal. 39-45)

Baik Syiah Rafidah dan Ghulat, kedua-duanya sentiasa mencela para sahabat, dan istri-istri nabi, juga memiliki akidah Imamah. Konsep teologis Syi’ah semakin paten dengan adanya revolusi Iran tahun 1979. Khomeini menetapkan konsep Imamah dalam bernegara di Iran. (M. Kholid Muslih, Penerapan Konsep Welayat Al Fakih, dalam buku Teologi dan Ajaran Shi’ah Menurut Referensi Induknya, INSISTS, 2014)

Tradisi Ahlussunnah

Perayaan Maulid sebenarnya tidak identik dengan Syi’ah, karena jauh sebelum itu sebenarnya maulid sudah dirayakan oleh kalangan Ahlu Sunnah. Seperti yang di jelaskan oleh pakar sejarah Islam Dr. Alwi Alatas. (lihat, http://inpasonline.com/mencari-asal-usul-maulid-nabi/)

Dalam tradisi di Nusantara, khususnya di Pesantren, sudah terbiasa pada waktu-waktu tertentu, khususnya di bulan maulid membacakan kitab sejarah Nabi saw, seperti kitab Barzanji, juga kumpulan sholawat seperti kitab Simtudduror. Umat Islam Nusantara menjadikan momentum maulid nabi sebagai ekspresi kecintaan kepada Nabi.

Kecintaan Ahlussunnah tidak seperti syi’ah yang penuh dengan kepura-puraan. Bahkan sejarah mencatat pengkhianat Rafidi kepada Sayyidina Ali, dan juga peristiwa Syahidnya Imam Husain adalah karena andil besar syi’ah yang ingin memecah belah umat Islam.

Sejatinya, Syi’ah hanya menjadikan ahlul bait sebagai komoditas propaganda dalam menarik simpati dan dukungan umat Islam. Syi’ah tidak pernah sungguh-sungguh menjadi pengikut ahlul bait. (Muhammad Idrus Ramli, Ahlul Bayt menurut Ahlussunnah dan Shi’ah, dalam buku Teologi dan Ajaran Shi’ah Menurut Referensi Induknya, INSISTS, 2014)

Pada bulan maulid ini perlu dijadikan momentum untuk kembali menapaktilasi perjalanan hidup dan perjuangan Nabi saw, serta menjadi penanda persatuan umat Islam. Sehingganya generasi muda semakin bersemangat untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, dengan meneladani akhlak Nabi Muhammad saw.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *